Ketika Kampus Kehilangan Narasi: Relevansi di Tengah Badai

Kita sedang menyaksikan sesuatu yang sunyi namun menggema di ruang-ruang seminar dan koridor fakultas: kursi-kursi yang perlahan mulai sepi, mata-mata yang tak lagi menatap dengan gairah yang sama, dan diskusi-diskusi yang kehilangan intensitasnya. Ini bukan sekadar statistik penurunan minat—ini adalah perubahan besar dalam cara generasi baru memaknai perguruan tinggi.

Fenomena ini bukan milik kita semata. Di seluruh dunia, kampus-kampus bergulat dengan pertanyaan eksistensial: apa gunanya kita di tengah hiruk-pikuk informasi yang melimpah dan jalur karier yang semakin cair? Tapi di Indonesia, khususnya di ekosistem LPTNU, persoalan ini memiliki wajah yang khas—dan mungkin lebih rumit dari sekadar "kurangnya minat" atau "gaungnya era digital".


Ketika Institusi Kehilangan Makna

Ada ironi yang menggelitik: di saat dunia pendidikan tinggi semakin "diperhatikan" oleh pemerintah—dengan berbagai program afirmasi, sertifikasi, dan insentif—justru di saat itulah kita kehilangan daya tarik. Bukan karena kita tidak penting. Tapi karena kita terjebak dalam rutinitas administratif yang mengaburkan hakikat kita: sebagai ruang pencarian dan pembentukan peradaban.

Di NU, kita terbiasa membicarakan kampus sebagai "menara gading" yang harus turun ke masyarakat, sebagai institusi yang mengabdi dan memberi solusi. Tapi dalam praktiknya, kita sering lupa bahwa pengabdian yang paling dalam justru dimulai dari kejernihan berpikir. Sebuah kampus yang hanya sibuk mengurus akreditasi, laporan kegiatan, dan proyek-proyek temporer—tanpa memberi ruang bagi kegelisahan intelektual yang tulus—pada akhirnya kehilangan "rasa" yang membuatnya dibutuhkan.

Para mahasiswa datang, bukan karena mereka haus akan ijazah. Mereka datang karena pada suatu titik mereka pernah merasa bahwa di kampus inilah pertanyaan-pertanyaan besar mereka akan mendapatkan ruang untuk tumbuh. Ketika ruang itu menyempit, mereka pergi—bukan dengan protes, tapi dengan diam. Dan kepergian diam itu lebih berbahaya dari demonstrasi manapun.


Kampus dan Krisis Narasi Kebangsaan

Ada lapisan lain yang perlu kita jujuri. Perguruan tinggi keagamaan, termasuk di bawah naungan NU, lahir dari kesadaran bahwa Islam dan kebangsaan adalah dua sisi mata uang yang sama. Kampus-kampus kita didirikan bukan hanya untuk melahirkan sarjana, tapi untuk memelihara kesadaran kritis tentang apa artinya menjadi Indonesia yang beradab.

Tapi di era ini, narasi besar itu mulai kabur. Di satu sisi, publik bergerak ke ekstrem—baik yang menginginkan keislaman yang eksklusif, maupun yang menganggap agama hanya urusan privat tanpa kaitan dengan kehidupan publik. Di tengah tarik-menarik itu, kampus kita sering terjebak dalam posisi yang aman tapi hampa: bicara toleransi tanpa substansi, mengulang jargon moderasi tanpa keberanian untuk masuk ke wilayah-wilayah yang sesungguhnya memerlukan perdebatan intelektual.

Mahasiswa sekarang lebih cerdas dari yang kita kira. Mereka bisa membedakan mana sikap yang dihayati dan mana yang sekadar kepatuhan formal. Mereka bosan dengan ceramah-ceramah keagamaan yang itu-itu saja, dan rindu pada diskusi yang sungguh-sungguh mempertaruhkan kebenaran—bukan sekadar mengulang apa yang sudah diketahui.


Dari Menara Gading ke Jalanan: Relevansi Sosial sebagai Jalan Pulang

Lalu, bagaimana kita bertahan? Bukan dengan membuat program lebih banyak, atau memasang spanduk-spanduk megah. Tetapi dengan mengembalikan kampus pada fungsi awalnya: sebagai ruang di mana dunia dipertanyakan, bukan sekadar dijalani.

Di sinilah relevansi sosial bukan lagi sekadar slogan, melainkan strategi eksistensial. Namun, perlu kejujuran untuk mengakui: relevansi sosial yang kita maksud bukanlah "kampus membantu masyarakat" dalam pengertian teknokratis semata. Bukan sekadar pelatihan UMKM, bantuan hukum gratis, atau program pengabdian yang bersifat musiman.

Relevansi sosial yang sesungguhnya adalah ketika kampus menjadi tempat di mana masalah-masalah nyata masyarakat—kemiskinan, ketidakadilan, degradasi moral, krisis lingkungan—dikupas dengan pisau analisis yang tajam, dan didiskusikan dengan hati yang tergerak. Ketika para dosen tidak hanya mengajar tentang teori, tetapi juga menunjukkan bagaimana teori itu berdarah-daging dalam realitas. Ketika mahasiswa tidak hanya menghafal konsep, tetapi belajar merasakan denyut kehidupan di luar pagar kampus.

Beberapa kampus di lingkungan NU sebenarnya sudah mulai bergerak ke arah sana. Ada yang membuka ruang diskusi terbuka tentang isu-isu kontemporer yang dihadapi masyarakat sekitar. Ada yang mulai merevitalisasi tradisi bahtsul masail sebagai metode berpikir kolektif yang tidak hanya melahirkan fatwa, tapi juga kesadaran sosial. Namun, gerakan ini masih sporadis, belum menjadi arus utama yang mengubah keseluruhan ekosistem akademik.


Peran Pimpinan: Menjaga Api, Bukan Menambah Kayu

Bagi para rektor, profesor, dan pimpinan perguruan tinggi—sebuah pesan kecil: tugas kita bukanlah menambah program atau memperbanyak aturan. Tugas kita adalah menciptakan iklim di mana gagasan bisa lahir dan tumbuh tanpa rasa takut. Iklim di mana dosen-dosen merasa aman untuk berpikir di luar jalur yang sudah ditentukan, di mana mahasiswa merasa didengar bukan karena mereka setuju, tapi karena mereka berani bertanya.

Kita tidak butuh visi besar yang muluk-muluk. Kita butuh konsistensi pada hal-hal kecil: memberi waktu lebih pada diskusi yang berkualitas, mendorong publikasi yang berbobot bukan sekadar untuk angka, dan menunjukkan bahwa kepemimpinan akademik adalah kepemimpinan yang juga mau belajar—bukan hanya mengajar.

Bayangkan jika setiap hari Jumat, seorang rektor menyempatkan diri duduk bersama mahasiswa di kantin, bukan untuk meresmikan program, tapi untuk mendengar apa yang sebenarnya mereka pikirkan. Bayangkan jika setiap rapat senat diisi dengan pertanyaan reflektif: "Apa yang hari ini membuat kita lebih bijak daripada kemarin?" Hal-hal sederhana seperti ini, jika dilakukan konsisten, bisa mengubah budaya kampus lebih dari seribu surat kebijakan.


Sebuah Pengingat

Kita tidak perlu putus asa. Kampus-kampus di lingkungan NU memiliki modal yang tidak dimiliki banyak institusi lain: jaringan nilai dan tradisi yang sudah teruji. Kita memiliki sejarah panjang tentang bagaimana pendidikan dan kebangsaan bisa berjalan beriringan. Kita memiliki khazanah pemikiran yang kaya, dari para kiai yang mengajarkan Islam dengan cinta, hingga para intelektual yang berani berbicara kebenaran di tengah kegelapan zaman.

Namun, warisan itu harus diperbarui, bukan hanya diwariskan. Relevansi sosial bukanlah proyek lima tahunan atau target strategis. Ia adalah sikap batin: bahwa di mana pun kita berdiri, kita sadar bahwa ilmu yang kita pelajari dan ajarkan pada akhirnya harus berguna bagi kemanusiaan. Jika tidak, kita hanyalah penjaga kuil yang lupa siapa yang sebenarnya kita sembah.


"Kampus yang bertahan bukanlah yang paling megah gedungnya, tetapi yang paling jernih cara berpikirnya dan paling tulus pengabdiannya kepada kehidupan."

Posting Komentar

0 Komentar