![]() |
| Mengapa Santri Perlu Merencanakan Hidup? |
Pernahkah terbesit dalam pikiran:
- "Apakah dengan merencanakan hidup berarti saya tidak berserah diri (tawakkal) kepada Allah?"
- Bagaimana saya harus menyikapi dunia yang begitu kompleks dan cepat berubah setelah lulus dari pesantren?
- Apakah identitas ke-santri-an saya akan tetap relevan di tengah arus globalisasi dan tantangan karir?
Jika pertanyaan-pertanyaan ini mengusik Anda, maka Anda tidak sendirian. Materi ini hadir sebagai jawaban dan teman perjalanan untuk menjawab kegelisahan tersebut.
"Mengapa Santri Perlu Merencanakan Hidup?" bukan sekadar materi tentang membuat target karir. Ini adalah eksplorasi makna tentang bagaimana perencanaan hidup justru merupakan bentuk ibadah yang paling nyata. Kami akan membongkar paradigma lama yang memisahkan antara "ikhlas" dengan "berusaha", dan menggantinya dengan perspektif yang utuh: bahwa merencanakan adalah bagian dari sunnatullah, doa adalah navigasinya, dan tawakkal adalah ketenangan hati dalam menjalani hasilnya.
Materi ini dirancang khusus sebagai bekal untuk menghadapi fase transisi yang penuh tantangan—dari lingkungan pesantren yang terstruktur menuju kehidupan pasca-pesantren yang penuh dinamika. Kami akan membekali Anda dengan kerangka berpikir (mindset) dan alat praktis (toolset) untuk tidak hanya sekadar bertahan, tetapi berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat, dengan tetap berpegang teguh pada identitas dan nilai-nilai luhur yang telah Anda dapatkan di pesantren.
Apa yang Akan Anda Pelajari
Dalam materi ini, Anda akan belajar:
| Topik Utama | Sub-Topik |
|---|---|
| Merencanakan Hidup adalah Ibadah: Memadukan Ikhtiar, Doa, dan Tawakkal | Apakah Merencana Bertentangan dengan Tawakkal? |
| - | - |
P
Masa depan adalah milik mereka yang mempersiapkannya hari ini. Jangan biarkan ketidakpastian membuat Anda takut melangkah. Mari kita ubah kekhawatiran menjadi sebuah rencana, dan keraguan menjadi sebuah keyakinan.
Kembali menuju kurikulum [Merancang "Life Roadmap": Visi 5 hingga 10 Tahun Ke Depan bagi Santri]


0 Komentar