![]() |
| Apakah Merencana Bertentangan dengan Tawakkal? |
Pertanyaan ini sah dan penting. Ia muncul dari keinginan untuk tulus dalam beribadah. Namun, keraguan ini justru bisa menjadi penghalang besar untuk mengambil langkah-langkah produktif yang justru diperintahkan oleh Islam.
Dalam artikel ini, kita akan menjawab kegelisahan hati tersebut dengan membongkar akar persoalannya. Kita akan melihat melalui lensa Al-Qur'an dan Sunnah bahwa perencanaan bukanlah lawan dari tawakkal, tetapi justru merupakan pra-syarat dan bentuk nyata dari tawakkal itu sendiri.
Merencana adalah Menjalankan Perintah Allah (Sunnatullah)
Allah SWT telah menetapkan hukum sebab-akibat (kausalitas) di alam semesta ini. Hukum ini dikenal sebagai sunnatullah. Api itu panas, air membasahi, dan bercocok tanam akan menghasilkan panen. Begitu pula dalam hidup, usaha yang terencana akan membawa pada hasil yang lebih terstruktur.
Firman Allah dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11 menjadi landasan utama:
...إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ...
"...Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini dengan tegas dan gamblang menempatkan tindakan aktif manusia (mengubah keadaan diri) sebagai syarat awal bagi datangnya perubahan dari Allah. Perencanaan hidup—mulai dari menata niat, menuliskan tujuan, hingga menyusun langkah-langkah strategis—adalah wujud konkret dari "mengubah keadaan diri" tersebut. Jika kita menginginkan masa depan yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih diridhai, kita harus memulainya dengan sebuah rancangan dan usaha. Dengan merencanakan, kita justru sedang menjalankan perintah dalam ayat ini.
Kisah Nabi Yusuf AS: Teladan Agung "Strategic Planning"
Jika masih ada keraguan, mari kita melihat teladan dari para nabi. Kisah Nabi Yusuf AS dalam Al-Qur'an (QS. Yusuf) adalah contoh sempurna bagaimana seorang nabi yang paling dekat dengan Allah pun menjalankan perencanaan yang strategis dan visioner.
Saat menafsirkan mimpi raja tentang tujuh tahun paceklik, Nabi Yusuf AS tidak hanya berkata, "Bersabarlah dan bertawakkal-lah." Beliau langsung merumuskan sebuah rencana manajemen logistik dan ekonomi yang detail:
- Analisis Situasi: Memahami akan datangnya masa subur (7 tahun) dan masa sulit (7 tahun).
- Rencana Aksi: Menyimpan hasil panen di tujuh tahun subur secara bijaksana dan tertib.
- Implementasi dan Kepemimpinan: Bahkan beliau menawarkan diri untuk memimpin pelaksanaan rencana ini: "Jadikanlah aku pemimpin perbendaharaan bumi (negeri Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (QS. Yusuf: 55)
Kisah inspiratif ini dengan jelas mematahkan anggapan bahwa perencanaan adalah sikap tidak tawakkal. Justru, perencanaan yang cermat adalah bagian dari hikmah (kebijaksanaan), amanah (tanggung jawab), dan kepemimpinan yang diperintahkan Allah.
Memahami Hakikat Tawakkal yang Sebenarnya
Akar dari keraguan ini seringkali terletak pada pemahaman yang keliru tentang tawakkal. Tawakkal sering disalahartikan sebagai sikap pasif, "hanya berdoa dan menunggu keajaiban". Padahal, tawakkal adalah "bersandarnya hati kepada Allah SWT setelah melakukan sebab-sebab (usaha) yang diperintahkan dan diperbolehkan."
Sebuah analogi yang terkenal dari para ulama dapat menjelaskan hal ini:
"Seorang petani tidak akan disebut bertawakkal jika ia hanya menebar benih lalu duduk di masjid tanpa mengurus ladangnya, berharap panen melimpah. Petani yang benar-benar bertawakkal adalah ia yang membajak tanah dengan baik, memilih benih unggul, menebarnya pada musim yang tepat, menyirami, memberantas hama, memupuk, DAN kemudian berserah diri kepada Allah untuk hasilnya, menerima apapun takdir yang diberikan dengan ridha."
Rantai Ibadah yang Utuh dalam Islam adalah:
MERENCANA (Ikhtiar & Niat) -> BERDOA (Memohon Keberkahan & Kemudahan) -> BERTINDAK (Implementasi Rencana) -> BERTAWAKKAL (Berserah Diri pada Keputusan Allah)
Merencanakan adalah langkah pertama dalam rantai ibadah ini. Ia adalah bentuk nyata dari ikhtiar.
Poin-Poin Kunci
- Dikotomi Palsu: Jangan terjebak dalam dikotomi palsu antara "ikhtiar" dan "tawakkal". Keduanya adalah dua sisi dari mata uang ibadah yang sama.
- Perencanaan sebagai Ibadah: Setiap langkah dalam merencanakan—menganalisis potensi diri, memikirkan masa depan, menuliskan tujuan—adalah bentuk pengamalan perintah Allah dan penggunaan akal yang telah Dia anugerahkan. Itu adalah ibadah.
- Tawakkal yang Aktif: Tawakkal sejati adalah "pasrah setelah usaha maksimal", bukan "pasrah tanpa usaha".
- Tanggung Jawab Pribadi: Ayat QS. Ar-Ra'd:11 menegaskan tanggung jawab pribadi kita untuk berubah. Perencanaan adalah alat untuk memikul tanggung jawab itu dengan serius.
Sebagai penutup, mari kita renungkan nasihat Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah:
"Tawakkal bukanlah meninggalkan sebab-sebab (usaha), tetapi tawakkal adalah yang tidak membuatmu bergantung kepada sebab-sebab tersebut (semata)."
Artinya, hati kita hanya bergantung pada Allah, tetapi fisik dan pikiran kita tetap harus menjalankan sebab-sebab yang diperintahkan, yaitu dengan merencanakan dan berusaha.
Dengan memahami fondasi ini, kita telah meluruskan niat dan kerangka berpikir. Sekarang, kita siap untuk melangkah dengan keyakinan bahwa merencanakan hidup adalah bagian dari menjalankan peran kita sebagai khalifah di muka bumi.
Pertanyaan Refleksi Diri
- Sebelum membaca artikel ini, bagaimana perasaan Anda ketika mendengar kata "merencanakan hidup"? Apakah ada rasa bersalah?
- Dari kisah Nabi Yusuf AS, pelajaran praktis apa yang paling menginspirasi Anda untuk diterapkan dalam kehidupan pribadi?
- Coba tuliskan satu area dalam hidup Anda (studi, karir, hubungan) yang membutuhkan perencanaan. Bagaimana Anda akan memulai merencanakannya dengan niat ibadah?
Tindakan Selanjutnya
- Bagikan di Kolom Komentar: Mari berdiskusi tentang jawaban refleksi Anda di kolom komentar.
- Lanjutkan Membaca: Silakan lanjutkan ke Artikel "Ikhtiar, Doa, Tawakkal: Satu Paket Ibadah yang Utuh".
Kembali menuju bagian topik [Mengapa Santri Perlu Merencanakan Hidup?]


0 Komentar