Matematika Dasar Pend Fisika Pertemuan 1: Sistem Bilangan Real dan Pertidaksamaan
Pendidikan Fisika
Sistem Bilangan Real dan Pertidaksamaan
Tujuan pembelajaran
Setelah modul ini, kamu bisa:
(C1) menyebutkan himpunan bilangan asli, cacah, bulat, rasional, irasional, dan real beserta notasinya;
(C2) menjelaskan perbedaan bilangan rasional dan irasional serta sifat urutan dan kerapatan bilangan real;
(C3) menyelesaikan pertidaksamaan linear, kuadrat, rasional, dan bernilai mutlak, serta menyatakan himpunan penyelesaiannya dalam notasi interval;
(C4) menganalisis kesalahan prosedural pada penyelesaian pertidaksamaan dan menentukan letak kesalahannya;
(C5) mengevaluasi kecukupan suatu penyelesaian dengan uji nilai dan argumen logis;
(C6) merancang model pertidaksamaan dari situasi fisis (toleransi, kinematika, gesekan) dan mengomunikasikannya secara jujur ilmiah dengan adab menuntut ilmu.
Capaian pertemuan ini
| No | Kamu akan mampu … | Dipelajari di |
|---|---|---|
| C1 | Menyebutkan himpunan bilangan dan notasinya | Bagian C |
| C2 | Menjelaskan rasional-irasional, urutan, dan kerapatan | Bagian C, D |
| C3 | Menyelesaikan pertidaksamaan dan menulis interval | Bagian F, G, H |
| C4 | Menganalisis kesalahan prosedural | Bagian K |
| C5 | Mengevaluasi penyelesaian dengan uji nilai | Bagian G, K |
| C6 | Merancang model pertidaksamaan dari situasi fisis | Bagian J, L |
Gambaran materi
Fisika jarang berbicara tentang satu nilai tunggal. Hasil pengukuran selalu datang dengan ketidakpastian, hukum alam sering berbentuk batas (selama sesuatu tidak melampaui nilai tertentu), dan model matematis hanya berlaku pada daerah tertentu. Bahasa yang paling alami untuk menyatakan semua itu adalah bahasa pertidaksamaan. Persamaan menyatakan kesamaan; pertidaksamaan menyatakan daerah yang diperbolehkan.
Gambar 1. Urutan inklusi ℕ ⊂ ℤ ℚ ⊂ ℝ.
Rencana belajar pekan ini
| Kapan | Apa yang dilakukan | Waktu |
|---|---|---|
Sebelum kelas (belajar mandiri) | Baca Bagian A–F dan kerjakan ulang setiap contoh dengan pena | mandiri |
Saat kelas (tatap muka) | Ceramah interaktif dan diskusi kelompok kecil | 3 sks |
Setelah kelas (latihan) | Kerjakan latihan C6 dan kuis daring di LMS, lalu unduh bukti | mandiri |
Materi dan rujukan: Sistem bilangan real dan pertidaksamaan (Purcell); pengantar tokoh al-Khwarizmi, bapak aljabar
Konteks dan kaitan
| Nilai atau standar | Sumber | Padanan pada topik pertemuan 1 | Praktik di kelas |
|---|---|---|---|
| Tawassuth (moderat) | Qanun Asasi; Khittah NU | Selang "tengah" dan pendekatan seimbang antara prosedur dan pemahaman konsep | Setiap soal dikerjakan dengan prosedur dan diuji nilai |
| Tawazun (seimbang) | Qanun Asasi; Khittah NU; QS. Ar-Rahman 7–9 | Prinsip al-jabr wa al-muqābala: kedua ruas diperlakukan setara | Demonstrasi neraca dan model "timbangan" untuk persamaan |
| I'tidal (adil, tegak) | Qanun Asasi; Khittah NU | Jujur melaporkan hasil ukur dan batas ketidakpastian; logika yang tegak (contoh penyangkal) | Rubrik penilaian transparan; larangan "mengarang" data praktikum |
| Tasamuh (toleran) | Qanun Asasi; Khittah NU | Toleransi ukur ± dan toleransi terhadap ragam strategi penyelesaian | Diskusi: membandingkan dua cara menyelesaikan soal yang sama |
| Amar ma'ruf nahi munkar | Khittah NU | Mengoreksi miskonsepsi teman dengan santun | Tinjauan sejawat (peer review) dengan format "apresiasi, pertanyaan, saran" |
| Ikhlas, tekun, tawadhu' | KH. Hasyim Asy'ari (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim); al-Ghazali (Ihya''Ulumuddin, Kitab al-'Ilm) | Sikap belajar yang tidak tergesa dan mau mengakui kesalahan langkah | Jurnal refleksi 5 menit di akhir kuliah |
| Tajug dan fakir miskin | Wasiat Sunan Gunung Jati | Ilmu untuk pemberdayaan: numerasi bagi madrasah dan pelaku usaha kecil | Proyek mini: rentang harga wajar (Soal C3-3 dan C6-2) |
| SN Dikti dan KKNI | Permendiktisaintek 39/2025; Perpres 8/2012 | Keselarasan CPL–Sub-CPMK–asesmen | Penilaian dengan rubrik ketepatan langkah |
| OBE, Bloom revisi, PISA 2022, NCTM | Spady 1994; Anderson dan Krathwohl 2001; OECD 2023; NCTM 2000 | Soal berjenjang C1–C6; siklus merumuskan–menggunakan–menafsirkan | Bagian C buku ini |
Indikator dan penilaian
Ketepatan menyelesaikan soal pertidaksamaan linear dan kuadrat
Kriteria dan teknik: Tes tertulis; rubrik ketepatan langkah
Bobot pertemuan: 3%
Latihan C6 dinilai otomatis dan kunci jawaban tidak ditampilkan. Jika kamu memakai AI atau sumber lain untuk membantu, sebutkan dan pastikan kamu dapat menjelaskan setiap langkah dengan kata-katamu sendiri.
Daftar periksa: aku sudah bisa …
Poin materi
A Mengapa Calon Guru Fisika Perlu Menguasai Pertidaksamaan
Fisika jarang berbicara tentang satu nilai tunggal. Hasil pengukuran selalu datang dengan ketidakpastian, hukum alam sering berbentuk batas (selama sesuatu tidak melampaui nilai tertentu), dan model matematis hanya berlaku pada daerah tertentu. Bahasa yang paling alami untuk menyatakan semua itu adalah bahasa pertidaksamaan. Persamaan menyatakan kesamaan; pertidaksamaan menyatakan daerah yang diperbolehkan.
Perhatikan beberapa pernyataan fisika yang sudah akrab sejak bangku sekolah menengah:
Gesekan statis: benda tetap diam selama gaya gesek memenuhi fs ≤ μsN. Di luar batas itu benda bergerak.
Energi kinetik: Ek = ½mv² ≥ 0 untuk setiap kecepatan v. Fakta ini bersumber dari sifat bahwa kuadrat bilangan real tidak pernah negatif.
Toleransi komponen: sebuah resistor berlabel 470 Ω dengan toleransi 5% berarti nilai sebenarnya R memenuhi |R − 470| ≤ 23,5.
Resultan gaya: dua gaya dengan besar 3 N dan 4 N menghasilkan resultan yang besarnya berada pada selang 1 N hingga 7 N, tergantung sudut apit keduanya. Ini adalah ketaksamaan segitiga yang akan kita bahas pada subbab 1.8.
Domain model: ungkapan seperti √(v² − 2gh) hanya bermakna fisis bila v² − 2gh ≥ 0.
Bagi calon guru, ada alasan tambahan. Kesulitan yang paling sering muncul ketika peserta didik mempelajari kinematika, listrik, dan optika bukan pada konsep fisikanya, melainkan pada manipulasi aljabar yang menyertainya. Guru yang tidak yakin kapan tanda pertidaksamaan harus dibalik tidak akan mampu menjelaskan mengapa suatu rentang nilai diperbolehkan dan rentang lain tidak. Karena itu, pertemuan pertama ini menjadi fondasi untuk seluruh perkuliahan selanjutnya, mulai dari fungsi, limit, hingga integral.
Pertidaksamaan adalah cara matematika menyatakan batas, rentang, dan toleransi. Menyelesaikannya berarti menemukan seluruh bilangan real yang memenuhi syarat, bukan satu nilai saja.
B Akar Historis: al-Khwarizmi dan Lahirnya Aljabar
Kata aljabar berasal dari judul sebuah buku abad ke-9 Masehi: al-Kitāb al-mukhtaṣar fī ḥisāb al-jabr wa al-muqābala, yang lazim diterjemahkan sebagai Ringkasan Perhitungan dengan Pelengkapan dan Penyeimbangan. Penulisnya adalah Muhammad bin Musa al-Khwarizmi (sekitar 780–850 M), yang bekerja di Bayt al-Hikmah (House of Wisdom) pada masa Khalifah al-Ma'mun. Karya ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 820 M dan menjadi salah satu tonggak pertama aljabar sebagai disiplin tersendiri.
Dua istilah pada judul itu menggambarkan dua operasi dasar yang masih kita pakai setiap hari:
al-jabr (pelengkapan, pemulihan): memindahkan suku negatif ke ruas lain dengan menambahkan besaran yang sama pada kedua ruas, sehingga semua suku menjadi positif. Contoh: mengubah 5x + 1 = 2 − 3x menjadi 8x + 1 = 2.
al-muqābala (penyeimbangan, pereduksian): menghapus suku sejenis yang sama pada kedua ruas sehingga persamaan menjadi lebih sederhana.
Perhatikan bahwa kedua operasi itu adalah prinsip keseimbangan: apa pun yang dilakukan pada satu ruas harus dilakukan pada ruas lainnya. Prinsip inilah yang pada subbab 1.7 akan kita perluas menjadi sifat-sifat pertidaksamaan, dengan satu tambahan penting: bila kedua ruas dikalikan bilangan negatif, arah ketidaksamaan berbalik.
Enam tipe persamaan al-Khwarizmi
Al-Khwarizmi menyebut tiga jenis besaran: akar (jidzr, yaitu x), kuadrat (māl, yaitu x²), dan bilangan sederhana (dirham). Dengan memadukan dua dari tiga besaran itu, ia menyusun enam bentuk baku persamaan linear dan kuadrat. Pada masanya, semuanya dituliskan dengan kata-kata, tanpa simbol, dengan koefisien positif.
| No. | Bentuk verbal (diadaptasi) | Bentuk simbolik modern (b, c >** 0)** |
|---|---|---|
| 1 | Kuadrat sama dengan akar | ax² = bx |
| 2 | Kuadrat sama dengan bilangan | ax² = c |
| 3 | Akar sama dengan bilangan | bx = c |
| 4 | Kuadrat dan akar sama dengan bilangan | ax² + bx = c |
| 5 | Kuadrat dan bilangan sama dengan akar | ax² + c = bx |
| 6 | Akar dan bilangan sama dengan kuadrat | bx + c = ax² |
Tabel 1.1. Enam bentuk baku persamaan menurut al-Khwarizmi (klasifikasi dikutip dari Caglayan, 2021, berdasarkan terjemahan Rosen, 1831).
Contoh historis: x² + 21 = 10x
Dalam terjemahan Rosen (1831), al-Khwarizmi memberi contoh tipe 5: "sebuah kuadrat dan dua puluh satu dirham sama dengan sepuluh akar". Langkah penyelesaiannya, dituliskan ulang dengan simbol modern, adalah sebagai berikut.
Bagi koefisien akar menjadi dua: 10 ÷ 2 = 5.
Kuadratkan hasilnya: 5² = 25.
Kurangi dengan bilangan: 25 − 21 = 4.
Ambil akar kuadratnya: √4 = 2.
Kurangi dari setengah koefisien akar: 5 − 2 = 3. Inilah salah satu akar. (Akar lainnya, 5 + 2 = 7, juga memenuhi.)
Verifikasi: 3² + 21 = 30 = 10·3, dan 7² + 21 = 70 = 10·7. Prosedur ini setara dengan melengkapkan kuadrat: x² − 10x + 25 = 4, sehingga (x − 5)² = 4 dan x − 5 = ±2. Menariknya, al-Khwarizmi tidak hanya memberikan resep hitung; ia juga menyertakan demonstrasi geometris berupa penggabungan persegi dan persegi panjang untuk menunjukkan mengapa prosedur itu benar.
Rashed (1994) menunjukkan bahwa aljabar al-Khwarizmi menjadi benih bagi perkembangan matematika Arab berikutnya, yakni pertemuan antara aritmetika dan aljabar yang melahirkan aljabar polinomial, analisis kombinatorik, geometri aljabar, hingga analisis numerik. Bagi mahasiswa Pendidikan Fisika, pelajaran utamanya bukan sekadar nama tokoh, melainkan sikap ilmiah: ia menjelaskan alasan di balik prosedur, menyusun klasifikasi sistematis, dan mengajarkannya untuk kemaslahatan praktis (warisan, perdagangan, pengukuran tanah). Inilah teladan ilmu yang bermanfaat.
Refleksi 1.2. Mengapa al-Khwarizmi perlu membagi persamaan ke dalam enam tipe, padahal kita sekarang cukup satu bentuk umum ax² + bx + c = 0? (Petunjuk: pikirkan peran koefisien negatif dan bilangan nol pada masa ketika simbol negatif belum lazim digunakan.)
C Sistem Bilangan: dari Bilangan Asli hingga Bilangan Real
Kalkulus, dan seluruh fisika yang bertumpu padanya, dibangun di atas sistem bilangan real. Purcell, Varberg, dan Rigdon membuka bab pendahuluan mereka dengan pernyataan serupa: bilangan yang menjadi pokok pembahasan kalkulus adalah bilangan real. Sebelum menyelesaikan pertidaksamaan, kita perlu mengenal "keluarga besar" bilangan ini.
Hierarki himpunan bilangan
| Himpunan | Notasi | Anggota | Contoh |
|---|---|---|---|
| Bilangan asli | ℕ | 1, 2, 3, … | 7; 120 |
| Bilangan cacah | ℕ0 atau 𝕎 | 0, 1, 2, 3, … | 0; 15 |
| Bilangan bulat | ℤ | …, −2, −1, 0, 1, 2, … | −4; 0; 9 |
| Bilangan rasional | ℚ | p/q dengan p, q ∈ ℤ, q ≠ 0 | −3/4; 0,25; 5 |
| Bilangan irasional | ℝ ℚ | bilangan real yang bukan rasional | √2; π; e |
| Bilangan real | ℝ | gabungan rasional dan irasional | semua titik pada garis bilangan |
Tabel 1.2. Hierarki sistem bilangan. Urutan inklusi: ℕ ⊂ ℤ ⊂ ℚ ⊂ ℝ.
Representasi desimal
Setiap bilangan real dapat dituliskan sebagai desimal. Bilangan rasional memiliki desimal yang berhenti (0,25) atau berulang (1/3 = 0,333…; 2/7 = 0,285714285714…). Bilangan irasional memiliki desimal yang tidak berhenti dan tidak berulang (π = 3,14159265…). Ciri ini dipakai Purcell dkk. untuk membedakan keduanya, dan akan berguna ketika kita membahas pembulatan serta estimasi pada subbab 1.5.
Ada satu jebakan klasik: 0,999… = 1. Misalkan x = 0,999…, maka 10x = 9,999…, sehingga 10x − x = 9, atau 9x = 9, jadi x = 1. Dua penulisan desimal yang berbeda dapat menyatakan bilangan real yang sama.
Bukti bahwa √2 irasional
Bukti ini penting bagi calon guru karena memperlihatkan teknik pembuktian dengan kontradiksi, yang sering menjadi pola nalar dalam fisika teoretis.
√2 bukan bilangan rasional.
Bukti. Andaikan √2 rasional. Maka √2 = p/q dengan p, q bilangan bulat positif yang tidak memiliki faktor persekutuan selain 1 (pecahan paling sederhana). Kuadratkan: 2 = p²/q², sehingga p² = 2q². Jadi p² genap. Karena kuadrat bilangan ganjil selalu ganjil, p harus genap; tulis p = 2k. Substitusi: 4k² = 2q², sehingga q² = 2k², dan q² genap, jadi q genap. Maka p dan q sama-sama genap, yaitu keduanya memiliki faktor persekutuan 2. Ini bertentangan dengan pengandaian bahwa pecahan itu paling sederhana. Jadi √2 irasional. ∎
Kerapatan bilangan real
Di antara dua bilangan real yang berbeda, selalu ada bilangan rasional dan bilangan irasional. Sifat ini disebut kerapatan (density). Akibatnya, tidak ada "bilangan real terkecil yang lebih besar dari 0": jika ε > 0 mungil sekalipun, maka ε/2 juga positif dan lebih kecil. Gagasan ini akan muncul kembali ketika kita menghitung limit pada Pertemuan 5.
Garis bilangan
Bilangan real dapat divisualisasikan sebagai titik-titik pada garis lurus tak berhingga: pilih satu titik sebagai nol, satu titik lain di kanannya sebagai 1, lalu setiap bilangan real berpadanan dengan tepat satu titik, dan sebaliknya. Bilangan a < b berarti titik a terletak di kiri titik b. Garis bilangan inilah "peta" yang akan kita pakai untuk membaca himpunan penyelesaian pertidaksamaan.
Refleksi 1.3. Apakah hasil kali dua bilangan irasional selalu irasional? Cari contoh yang menunjukkan jawabannya "tidak". (Petunjuk: √2 · √2.)
D Struktur Aksiomatik: Lapangan Terurut dan Kelengkapan
Mengapa tanda ketidaksamaan dibalik ketika dikalikan bilangan negatif? Jawaban "karena aturannya begitu" tidak cukup bagi seorang guru. Jawaban yang kokoh datang dari aksioma bilangan real. Kita tidak akan membangun teori secara penuh, tetapi cukup untuk melihat bahwa aturan manipulasi tersebut dapat dibuktikan.
Aksioma lapangan
Himpunan ℝ dengan operasi penjumlahan (+) dan perkalian (·) memenuhi sembilan sifat berikut untuk semua a, b, c ∈ ℝ.
| Sifat | Penjumlahan | Perkalian |
|---|---|---|
| Tertutup | a + b ∈ ℝ | a · b ∈ ℝ |
| Komutatif | a + b = b + a | a · b = b · a |
| Asosiatif | (a + b) + c = a + (b + c) | (a · b) · c = a · (b · c) |
| Identitas | a + 0 = a | a · 1 = a |
| Invers | ada −a sehingga a + (−a) = 0 | jika a ≠ 0, ada 1/a sehingga a · (1/a) = 1 |
| Distributif | a · (b + c) = a · b + a · c |
Tabel 1.3. Aksioma lapangan bilangan real (disajikan dalam bentuk ringkas; lihat Bartle dan Sherbert, 2011, Bab 2, untuk perumusan formal).
Aksioma urutan
Terdapat himpunan bagian ℝ+ (bilangan positif) yang memenuhi: (i) jika a, b ∈ ℝ+ maka a + b ∈ ℝ+ dan a · b ∈ ℝ+; (ii) untuk setiap a ∈ ℝ berlaku tepat satu dari tiga kemungkinan: a ∈ ℝ+, a = 0, atau −a ∈ ℝ+ (trikotomi). Relasi a < b didefinisikan sebagai b − a ∈ ℝ+.
Akibat yang dapat dibuktikan
Dari aksioma di atas, empat sifat berikut yang sering dipakai pada pertidaksamaan dapat dibuktikan.
(a) Jika a < b maka a + c < b + c untuk setiap c. (b) Jika a < b dan c > 0 maka ac < bc. (c) Jika a < b dan c < 0 maka ac > bc (arah berbalik). (d) Untuk setiap a ≠ 0 berlaku a² > 0. Jika 0 < a < b maka 1/b < 1/a.
Bukti (a). (b + c) − (a + c) = b − a ∈ ℝ+, sehingga a + c < b + c.
Bukti (b). b − a ∈ ℝ+ dan c ∈ ℝ+; hasil kali keduanya (b − a)c = bc − ac ∈ ℝ+, jadi ac < bc.
Bukti (c). Karena c < 0, maka −c ∈ ℝ+. Hasil kali (b − a)(−c) = ac − bc ∈ ℝ+ (sebab b − a ∈ ℝ+). Jadi bc < ac, yaitu ac > bc. Inilah alasan mengapa arah berbalik: bukan aturan hafalan, melainkan akibat langsung dari tertutupnya ℝ+ terhadap perkalian.
Bukti (d). Jika a > 0, maka a · a ∈ ℝ+. Jika a < 0, maka −a ∈ ℝ+ dan (−a)(−a) = a² ∈ ℝ+. Untuk bagian kedua: 0 < a < b memberi ab > 0, sehingga 1/(ab) > 0. Kalikan a < b dengan 1/(ab) > 0 menurut (b): 1/b < 1/a. ∎
Aksioma kelengkapan (completeness)
ℚ juga memenuhi aksioma lapangan dan urutan, tetapi ℚ "berlubang": tidak ada bilangan rasional yang kuadratnya 2. Yang membedakan ℝ dari ℚ adalah aksioma kelengkapan: setiap himpunan tak kosong yang terbatas ke atas memiliki batas atas terkecil (supremum) di dalam ℝ. Himpunan {x ∈ ℚ : x² < 2} terbatas ke atas, tetapi supremumnya, yaitu √2, tidak berada di ℚ. Sifat kelengkapan inilah yang kelak menjamin eksistensi limit, nilai maksimum fungsi kontinu pada selang tertutup, dan integral tentu. Pada tingkat Matematika Dasar, kita cukup menyadari bahwa garis bilangan real tidak memiliki lubang.
Aturan pertidaksamaan yang kita pakai bukan hafalan. Semuanya bersumber dari tiga pilar: aksioma lapangan, aksioma urutan, dan aksioma kelengkapan. Guru yang memahami pilar ini mampu menjawab pertanyaan "mengapa?" dari peserta didik yang kritis.
E Estimasi, Angka Signifikan, dan Logika Dasar
Purcell dkk. menggabungkan tiga hal dalam satu subbab pembuka: bilangan real, estimasi, dan logika. Penggabungan itu tepat, sebab ketiganya adalah kebiasaan berpikir yang harus dimiliki sebelum seorang mahasiswa menyentuh kalkulator.
Estimasi sebelum menghitung
Sebelum menekan tombol kalkulator, perkirakan dahulu orde besar jawabannya. Misalnya 49,7 × 20,3 ≈ 50 × 20 = 1000; bila kalkulator menunjukkan 10.090 atau 100,9, Anda langsung tahu ada salah ketik. Dalam fisika, kebiasaan ini disebut estimasi orde besaran dan menjadi alat pengendali mutu yang murah namun ampuh.
Angka signifikan dan pembulatan
Angka signifikan adalah angka yang bermakna dalam suatu hasil ukur: semua angka pasti ditambah satu angka taksiran. Aturan praktis yang dipakai dalam praktikum:
Angka bukan nol selalu signifikan. Nol di antara angka bukan nol signifikan (kasus: 2003 memiliki 4 angka signifikan).
Nol di depan angka bukan nol tidak signifikan (0,0042 memiliki 2 angka signifikan).
Nol di belakang koma desimal signifikan (3,200 memiliki 4 angka signifikan).
Pada perkalian dan pembagian, hasil dinyatakan dengan jumlah angka signifikan terkecil di antara faktor-faktornya. Pada penjumlahan dan pengurangan, hasil mengikuti jumlah desimal terkecil.
Hubungannya dengan pertidaksamaan langsung: hasil ukur "12,3 cm" dengan ketidakpastian 0,2 cm berarti nilai sebenarnya L memenuhi |L − 12,3| ≤ 0,2, yaitu 12,1 ≤ L ≤ 12,5. Angka signifikan adalah bentuk ringkas dari pernyataan interval.
Logika: pernyataan, implikasi, dan kuantor
Seluruh teorema dalam buku ini berbentuk implikasi "jika p maka q" (ditulis p ⇒ q). Beberapa istilah yang harus dikuasai calon guru:
| Istilah | Bentuk | Setara dengan p ⇒ q? | Contoh (p: x >** 2, q: x² ****>**** 4, x bilangan real)** |
|---|---|---|---|
| Implikasi | p ⇒ q | — | Jika x > 2 maka x² > 4. (Benar) |
| Konvers | q ⇒ p | Tidak | Jika x² > 4 maka x > 2. (Salah, x = −3) |
| Invers | p ⇒ q | Tidak | Jika x ≤ 2 maka x² ≤ 4. (Salah, x = −3) |
| Kontraposisi | q ⇒ p | Ya | Jika x² ≤ 4 maka x ≤ 2. (Benar) |
Tabel 1.4. Implikasi dan turunannya. Hanya kontraposisi yang selalu bernilai sama dengan implikasi asal.
Kuantor juga penting. Pernyataan "untuk setiap x ∈ ℝ, x² ≥ 0" (kuantor universal ∀) dibantah cukup dengan satu contoh penyangkal, sedangkan pernyataan "ada x ∈ ℝ sehingga x² = 2" (kuantor eksistensial ∃) dibuktikan cukup dengan satu contoh. Negasi "∀x, P(x)" adalah "∃x, bukan P(x)". Banyak miskonsepsi pertidaksamaan, seperti "x² > 4 berarti x > 2", runtuh oleh satu contoh penyangkal.
Refleksi 1.5. Tulis kontraposisi dari pernyataan fisika: "Jika benda tidak dikenai gaya luar, maka kecepatannya konstan." Apakah konversnya benar?
F Interval dan Notasi Himpunan
Himpunan penyelesaian pertidaksamaan hampir selalu berupa selang pada garis bilangan atau gabungan beberapa selang. Notasi interval menuliskannya dengan ringkas. Kurung biasa "( )" berarti ujung tidak termasuk (titik terbuka), kurung siku "[ ]" berarti ujung termasuk (titik tertutup).
| Notasi interval | Notasi himpunan | Makna pada garis bilangan |
|---|---|---|
| (a, b) | {x : a < x < b} | antara a dan b, kedua ujung tidak ikut |
| [a, b] | {x : a ≤ x ≤ b} | antara a dan b, kedua ujung ikut |
| [a, b) | {x : a ≤ x < b} | ujung kiri ikut, ujung kanan tidak |
| (a, b] | {x : a < x ≤ b} | ujung kiri tidak ikut, ujung kanan ikut |
| (a, ∞) | {x : x > a} | semua bilangan di kanan a |
| [a, ∞) | {x : x ≥ a} | a dan semua bilangan di kanannya |
| (−∞, b) | {x : x < b} | semua bilangan di kiri b |
| (−∞, b] | {x : x ≤ b} | b dan semua bilangan di kirinya |
| (−∞, ∞) | ℝ | seluruh bilangan real |
Tabel 1.5. Jenis-jenis interval. Simbol ∞ bukan bilangan real, sehingga selalu dipasangkan dengan kurung biasa.
Dua operasi himpunan yang sering diperlukan: gabungan (∪, "atau") dan irisan (∩, "dan"). Contoh: [1, 5) ∩ (3, 8] = (3, 5), sedangkan (−∞, −2) ∪ (5, ∞) menyatakan semua bilangan real kecuali yang berada pada selang [−2, 5].
G Pertidaksamaan: Sifat, Metode, dan Contoh Terselesaikan
Sifat-sifat dasar
Menyelesaikan pertidaksamaan berarti mengubahnya menjadi pertidaksamaan yang setara (memiliki himpunan penyelesaian yang sama) dan lebih sederhana, sama seperti al-muqābala pada persamaan. Teorema 1.2 memberi tiga operasi yang diizinkan.
| Operasi pada kedua ruas | Arah tanda | Catatan |
|---|---|---|
| Menambah atau mengurangi bilangan yang sama | tetap | selalu aman |
| Mengalikan atau membagi bilangan positif | tetap | pastikan bilangan itu benar-benar positif |
| Mengalikan atau membagi bilangan negatif | berbalik | penyebab kesalahan paling sering |
| Mengalikan dengan ungkapan yang tandanya belum diketahui | tidak boleh | pecah menjadi kasus atau pindahkan ke satu ruas |
| Mengambil kebalikan (untuk ruas yang sama-sama positif atau sama-sama negatif) | berbalik | 0 < a < b ⇒ 1/b < 1/a |
Tabel 1.6. Operasi yang diizinkan pada pertidaksamaan.
Pertidaksamaan linear
Selesaikan 3x − 5 < 7 + x. Penyelesaian. Kurangi kedua ruas dengan x: 2x − 5 < 7. Tambahkan 5: 2x < 12. Bagi 2 (positif, arah tetap): x < 6. Himpunan penyelesaian: (−∞, 6). Uji: x = 0 → −5 < 7 ✓; x = 6 → 13 < 13 ✗, sehingga 6 memang tidak termasuk.
Selesaikan 1 ≤ 3x − 2 < 10. Penyelesaian. Tambahkan 2 pada ketiga bagian: 3 ≤ 3x < 12. Bagi 3: 1 ≤ x < 4. Himpunan penyelesaian: [1, 4).
Pertidaksamaan kuadrat dan metode titik pemecah
Untuk pertidaksamaan polinomial dan rasional, metode yang paling andal adalah metode titik pemecah (sign analysis). Prosedurnya:
Pindahkan semua suku ke satu ruas sehingga ruas lainnya nol.
Faktorkan ungkapan itu seluas mungkin.
Tentukan titik-titik tempat ungkapan bernilai nol atau tak terdefinisi (titik pemecah) dan tandai pada garis bilangan.
Titik-titik pemecah membagi garis bilangan menjadi selang. Ambil satu titik uji dari tiap selang, tentukan tanda ungkapan pada selang itu.
Pilih selang yang tandanya sesuai. Periksa secara terpisah apakah titik pemecah termasuk (hanya bila tanda ≤ atau ≥, dan ungkapan terdefinisi di sana).
Selesaikan x² − 3x − 10 > 0. Penyelesaian. Faktorkan: (x − 5)(x + 2) > 0. Titik pemecah: x = −2 dan x = 5. Selang dan tanda: untuk x < −2 (uji x = −3): (−8)(−1) = + ; untuk −2 < x < 5 (uji x = 0): (−5)(2) = − ; untuk x > 5 (uji x = 6): (1)(8) = +. Himpunan penyelesaian: (−∞, −2) ∪ (5, ∞). Titik pemecah tidak termasuk karena tanda ">" ketat.
Selesaikan 2x² + x ≤ 6. Penyelesaian. 2x² + x − 6 ≤ 0, atau (2x − 3)(x + 2) ≤ 0. Titik pemecah: x = −2 dan x = 3/2. Tanda ungkapan: positif di luar akar, negatif di antara akar (koefisien x² positif). Himpunan penyelesaian: [−2, 3/2]. Kedua ujung termasuk karena tanda "≤".
Selesaikan x³ − 3x² − x + 3 > 0. Penyelesaian. Kelompokkan: x(x² − 1) − 3(x² − 1) = (x − 3)(x − 1)(x + 1) > 0. Titik pemecah: −1, 1, 3. Untuk x < −1 tandanya (−)(−)(−) = −; untuk −1 < x < 1: (−)(−)(+) = +; untuk 1 < x < 3: (−)(+)(+) = −; untuk x > 3: +. Himpunan penyelesaian: (−1, 1) ∪ (3, ∞).
Pertidaksamaan rasional
Pada pecahan, jangan mengalikan silang dengan penyebut yang tandanya belum diketahui. Pindahkan semua suku ke satu ruas, samakan penyebut, lalu gunakan metode titik pemecah. Titik yang membuat penyebut nol tidak pernah termasuk himpunan penyelesaian.
Selesaikan (x − 3)/(x + 2) ≤ 2. Penyelesaian. Kurangi 2: (x − 3)/(x + 2) − 2 ≤ 0, yaitu (x − 3 − 2x − 4)/(x + 2) = (−x − 7)/(x + 2) ≤ 0. Kalikan −1 (arah berbalik): (x + 7)/(x + 2) ≥ 0. Titik pemecah: −7 (pembilang nol, boleh) dan −2 (penyebut nol, tidak boleh). Tanda: x < −7 → (−)/(−) = +; −7 < x < −2 → (+)/(−) = −; x > −2 → +. Himpunan penyelesaian: (−∞, −7] ∪ (−2, ∞). Uji: x = 0 → −3/2 = −1,5 ≤ 2 ✓; x = −3 → (−6)/(−1) = 6 ≤ 2 ✗ (−3 berada di selang yang dikeluarkan); x = −10 → (−13)/(−8) = 1,625 ≤ 2 ✓
H Nilai Mutlak dan Ketaksamaan Segitiga
Nilai mutlak mengukur jarak suatu bilangan dari nol pada garis bilangan, tanpa memperhatikan arah. Secara formal:
|x| = x jika x ≥ 0; |x| = −x jika x < 0.
Interpretasi geometris yang lebih berguna: |a − b| adalah jarak antara titik a dan titik b. Karena itu pernyataan |x − 3| < 2 berarti "jarak x dari 3 kurang dari 2", yakni 1 < x < 5. Pembacaan ini ternyata sama persis dengan bahasa toleransi pada fisika: "nilai x berada dalam rentang 2 dari nilai nominal 3".
Sifat-sifat nilai mutlak
|x| ≥ 0, dan |x| = 0 jika dan hanya jika x = 0;
|−x| = |x|; |xy| = |x||y|; |x/y| = |x|/|y| (y ≠ 0);
√(x²) = |x| (bukan x!); |x|² = x²;
−|x| ≤ x ≤ |x|.
Untuk a > 0: (i) │x│ < a ⇔ −a < x < a. (ii) │x│ > a ⇔ x < −a atau x > a. Untuk "≤" dan "≥" berlaku hal yang sama dengan ujung termasuk.
Contoh terselesaikan
Selesaikan │2x − 3│ < 5. Penyelesaian. Menurut Teorema 1.3(i): −5 < 2x − 3 < 5. Tambah 3: −2 < 2x < 8. Bagi 2: −1 < x < 4. Himpunan penyelesaian: (−1, 4).
Selesaikan │x + 2│ ≥ 3. Penyelesaian. Menurut Teorema 1.3(ii): x + 2 ≤ −3 atau x + 2 ≥ 3, sehingga x ≤ −5 atau x ≥ 1. Himpunan penyelesaian: (−∞, −5] ∪ [1, ∞).
Selesaikan │x − 1│ < 2│x + 3│. Penyelesaian. Kedua ruas tak negatif, sehingga boleh dikuadratkan tanpa mengubah arah: (x − 1)² < 4(x + 3)². Jabarkan: x² − 2x + 1 < 4x² + 24x + 36, sehingga 0 < 3x² + 26x + 35 = (3x + 5)(x + 7). Titik pemecah: x = −7 dan x = −5/3. Hasil kali bernilai positif di luar kedua akar. Himpunan penyelesaian: (−∞, −7) ∪ (−5/3, ∞). Uji: x = 0 → 1 < 6 ✓; x = −2 → 3 < 2 ✗ (−2 berada di selang yang dikeluarkan); x = −8 → 9 < 10 ✓
Selesaikan │x − 1│ + │x + 2│ < 5. Penyelesaian. Titik kritis: x = −2 dan x = 1 membagi garis bilangan menjadi tiga daerah. (a) x < −2: (1 − x) + (−x − 2) = −2x − 1 < 5, sehingga x > −3. Irisan: (−3, −2). (b) −2 ≤ x < 1: (1 − x) + (x + 2) = 3 < 5, selalu benar. Seluruh selang [−2, 1) berlaku. (c) x ≥ 1: (x − 1) + (x + 2) = 2x + 1 < 5, sehingga x < 2. Irisan: [1, 2). Himpunan penyelesaian: gabungan ketiganya, yaitu (−3, 2). Secara geometris: jumlah jarak x ke 1 dan ke −2 kurang dari 5.
Ketaksamaan segitiga
Untuk setiap bilangan real a dan b berlaku │a + b│ ≤ │a│ + │b│. Akibatnya (ketaksamaan segitiga terbalik): ││a│ − │b││ ≤ │a − b│.
Bukti. Dari −|a| ≤ a ≤ |a| dan −|b| ≤ b ≤ |b|, jumlahkan keduanya: −(|a| + |b|) ≤ a + b ≤ |a| + |b|. Menurut Teorema 1.3(i) (dalam versi ≤), ini setara dengan |a + b| ≤ |a| + |b|. Untuk bentuk terbalik, tulis |a| = |(a − b) + b| ≤ |a − b| + |b|, sehingga |a| − |b| ≤ |a − b|; dengan menukar peran a dan b diperoleh |b| − |a| ≤ |a − b|, dan keduanya menghasilkan ||a| − |b|| ≤ |a − b|. ∎
Mengapa disebut "segitiga"? Pada ruang dua dimensi, panjang satu sisi segitiga tidak melebihi jumlah panjang dua sisi lainnya. Gagasan yang sama menyatakan bahwa besar resultan dua vektor tidak melebihi jumlah besar masing-masing vektor. Kelak, pada Pertemuan 11, kita akan menyaksikan |a + b| ≤ |a| + |b| berlaku juga untuk vektor, dan fisikawan menggunakannya setiap kali menaksir batas atas suatu resultan gaya.
J Aplikasi dalam Fisika
Bagian ini menunjukkan bahwa pertidaksamaan bukan "pelajaran aljabar yang terpisah", melainkan perkakas modeling. Setiap contoh mengikuti pola tiga tahap yang juga menjadi kerangka literasi matematika PISA 2022: merumuskan situasi secara matematis, menggunakan konsep dan prosedur matematika, lalu menafsirkan dan mengevaluasi hasilnya dalam konteks.
Sebuah resistor berlabel 470 Ω dengan toleransi ±5%. Tentukan rentang nilai hambatan sebenarnya, dan putuskan apakah resistor yang terukur 450 Ω masih memenuhi spesifikasi. Rumuskan. Simpangan maksimum = 5% × 470 = 23,5 Ω. Syarat toleransi: │R − 470│ ≤ 23,5. Gunakan. −23,5 ≤ R − 470 ≤ 23,5, sehingga 446,5 ≤ R ≤ 493,5. Tafsirkan. Rentang yang diperbolehkan: [446,5 Ω ; 493,5 Ω]. Nilai 450 Ω berada di dalamnya, jadi resistor tersebut lolos.
Bola dilempar vertikal ke atas dari tanah dengan kecepatan awal 20 m/s. Ambil g = 10 m/s², sehingga ketinggiannya h(t) = 20t − 5t² (dalam meter). Pada selang waktu berapa bola berada lebih tinggi dari 15 m? Rumuskan. 20t − 5t² > 15. Gunakan. Bagi 5: 4t − t² > 3, atau t² − 4t + 3 < 0, yaitu (t − 1)(t − 3) < 0. Titik pemecah t = 1 dan t = 3; hasil kali negatif di antara akar: 1 < t < 3. Tafsirkan. Bola berada di atas 15 m selama 2 detik, yaitu dari t = 1 s sampai t = 3 s. Uji: h(1) = 15 dan h(3) = 15 (tepat di batas), sedangkan h(2) = 20 m adalah titik tertinggi.
Balok bermassa m diam pada bidang miring kasar dengan sudut θ dan koefisien gesek statis μs = 0,6. Tentukan syarat sudut agar balok tetap diam. Rumuskan. Gaya sejajar bidang: mg sin θ harus ditahan oleh gesekan statis fs ≤ μsN = μs mg cos θ. Gunakan. mg sin θ ≤ μs mg cos θ. Karena m, g > 0 dan cos θ > 0 untuk 0° < θ < 90°, bagi kedua ruas dengan mg cos θ (positif, arah tetap): tan θ ≤ μs = 0,6. Tafsirkan. θ ≤ arctan 0,6 ≈ 31°. Hasil ini tidak bergantung pada massa balok, suatu kesimpulan fisis yang mengejutkan banyak peserta didik dan layak dijadikan bahan demonstrasi.
Dua gaya besarnya 3 N dan 4 N bekerja pada satu titik. Tentukan rentang besar resultannya. Gunakan. Besar resultan paling besar bila searah: 3 + 4 = 7 N; paling kecil bila berlawanan arah: │4 − 3│ = 1 N. Ketaksamaan segitiga dan bentuk terbaliknya memberi │4 − 3│ ≤ │R│ ≤ 3 + 4. Tafsirkan. 1 N ≤ │R│ ≤ 7 N. Nilai 5 N tercapai bila kedua gaya saling tegak lurus (segitiga 3-4-5).
Panjang batang diukur L = (12,3 ± 0,2) cm. Nyatakan sebagai pertidaksamaan nilai mutlak dan sebagai interval, lalu tentukan apakah nilai L = 12,6 cm konsisten dengan hasil ukur itu. Gunakan. │L − 12,3│ ≤ 0,2, sehingga L ∈ [12,1 ; 12,5] cm. Nilai 12,6 cm berada di luar interval; hasil ukur tidak konsisten dengan nilai tersebut pada tingkat ketidakpastian yang dinyatakan.
Refleksi 1.9. Pada Contoh 1.13, mengapa kita tidak boleh membagi dengan cos θ tanpa memeriksa tandanya, dan apa yang terjadi bila θ = 90°?
K Miskonsepsi Lazim dan Pengetahuan Pedagogis Calon Guru
Seorang calon guru perlu menguasai bukan hanya jawaban benar, melainkan juga pola kesalahan yang kemungkinan muncul pada peserta didiknya. Tabel berikut merangkum miskonsepsi yang paling sering ditemukan pada topik ini, lengkap dengan contoh penyangkal yang dapat dipakai di kelas.
| Miskonsepsi | Mengapa keliru | Contoh penyangkal / koreksi |
|---|---|---|
| "x² > 4 berarti x > 2" | Kuadrat tidak membedakan tanda; mengabaikan kasus negatif | x = −3 memenuhi x² = 9 > 4 tetapi −3 < 2. Benar: x < −2 atau x > 2. |
| Mengalikan kedua ruas dengan x tanpa memeriksa tandanya, mis. 1/x < 2 ⇒ 1 < 2x | Jika x < 0, arah tanda harus berbalik | Pecahkan menjadi dua kasus. Untuk 1/x < 2 benar: x < 0 atau x > 1/2. |
| Mencoret faktor sekutu, mis. x(x − 1) > 3(x − 1) menjadi x > 3 | Faktor (x − 1) dapat negatif atau nol | Pindahkan ke satu ruas: (x − 1)(x − 3) > 0, jadi x < 1 atau x > 3. |
| √(x²) = x | Akar kuadrat utama selalu tak negatif | x = −5: √25 = 5 ≠ −5. Benar: √(x²) = │x│. |
| │x│ < a diselesaikan sebagai "x < −a atau x > a" | Menukar kata hubung "dan" dengan "atau" | │x│ < 3 berarti −3 < x < 3 (irisan), bukan gabungan. |
| Menulis ∞ dengan kurung siku, mis. [2, ∞] | ∞ bukan bilangan real, tidak dapat menjadi anggota | Tulis [2, ∞). |
| Titik pemecah penyebut ikut sebagai penyelesaian | Pecahan tidak terdefinisi di sana | Selalu gunakan kurung biasa untuk akar penyebut. |
| Hasil tanpa uji nilai | Tidak ada pemeriksaan mandiri | Biasakan uji 1–2 titik dari tiap selang jawaban. |
Tabel 1.7. Miskonsepsi pada pertidaksamaan, penyebabnya, dan koreksinya.
Pertanyaan diagnostik yang efektif adalah meminta peserta didik mencari contoh penyangkal, bukan sekadar menghitung. Satu contoh penyangkal yang kuat lebih meyakinkan daripada tiga penjelasan lisan.
L Integrasi Kurikulum Nasional, Internasional, Qanun Asasi, Khittah NU, dan Nilai Luhur Cirebon
Bagian ini menunjukkan bahwa materi pertidaksamaan tidak berdiri sendiri. Ia bertemu dengan standar pendidikan tinggi nasional, kurikulum sekolah, praktik internasional, serta nilai-nilai yang dihidupi komunitas Nahdliyin dan masyarakat Cirebon. Perlu dicatat sejak awal: keterkaitan nilai di sini bersifat analogi pedagogis (jembatan untuk menumbuhkan karakter dan makna), bukan klaim bahwa teks keagamaan atau tradisi tersebut membahas pertidaksamaan secara matematis.
A. Kurikulum nasional
Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Rancangan pembelajaran ini bertumpu pada capaian pembelajaran lulusan (CPL) yang diturunkan menjadi CPMK dan Sub-CPMK, sesuai struktur standar nasional pendidikan tinggi yang kini diatur dalam Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (peraturan ini mencabut Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023). Dalam struktur itu, standar luaran (kompetensi lulusan yang dirumuskan dalam CPL), standar proses, dan standar masukan saling selaras. Sub-CPMK 1 pada RPS memenuhi tuntutan keselarasan tersebut: tujuan (menyelesaikan pertidaksamaan), proses (ceramah interaktif, diskusi), dan penilaian (tes tertulis dengan rubrik langkah) berada dalam satu garis.
Kurikulum sekolah (Kurikulum Merdeka). Capaian Pembelajaran jenjang pendidikan dasar dan menengah ditetapkan melalui Keputusan Kepala BSKAP Nomor 032/H/KR/2024 (edisi 2024) dan, menurut daftar rujukan yang saya temukan, diperbarui lagi melalui Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025. Capaian Pembelajaran Matematika disusun dalam elemen konten dan elemen proses, dan komunikasi matematis termasuk kecakapan proses. Calon guru fisika perlu memahami bahwa pertidaksamaan, nilai mutlak, dan fungsi kuadrat adalah bahan yang kelak mereka temui pada pembelajaran matematika dan fisika di SMA/MA. Catatan kehati-hatian: nomor butir CP spesifik per fase harus dicocokkan Bapak/Ibu dengan dokumen resmi edisi terbaru.
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Lulusan S1 berada pada level 6 KKNI (Perpres Nomor 8 Tahun 2012), yang menuntut kemampuan menerapkan bidang keahlian dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah kuantitatif pada fisika adalah salah satu wujud nyatanya.
B. Kurikulum dan standar internasional
Outcome-Based Education (OBE). Spady (1994) merumuskan OBE sebagai pengorganisasian seluruh sistem pendidikan di sekitar apa yang benar-benar mampu dilakukan peserta didik pada akhir pembelajaran. Biggs dan Tang (2011) melengkapinya dengan gagasan constructive alignment: capaian, aktivitas belajar, dan asesmen harus selaras. Tabel Pertemuan 1 pada RPS dapat dibaca sebagai penerapan langsung gagasan ini.
Taksonomi Bloom revisi. Anderson dan Krathwohl (2001) merevisi taksonomi menjadi enam proses kognitif: mengingat (C1), memahami (C2), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6). Latihan soal pada Bagian C disusun mengikuti urutan ini.
Literasi matematika PISA 2022. Kerangka PISA 2022 (OECD, 2023) memandang literasi matematika sebagai kemampuan merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Siklus ini digunakan pada Subbab 1.9.
NCTM.Principles and Standards for School Mathematics (NCTM, 2000) menempatkan pemecahan masalah, penalaran dan pembuktian, komunikasi, koneksi, dan representasi sebagai standar proses. Kelimanya hadir pada pertemuan ini: pemecahan masalah (Contoh 1.12), penalaran dan pembuktian (Teorema 1.1–1.4), komunikasi (notasi interval), koneksi (fisika), dan representasi (garis bilangan).
C. Qanun Asasi Nahdlatul Ulama
Qanun Asasi adalah dokumen dasar Nahdlatul Ulama yang disusun Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari. Muqaddimahnya merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an, hadis, dan pendapat sahabat, serta menekankan persatuan umat dan pentingnya ilmu. Sebuah kajian di jurnal JIEP (Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng) membaca muqaddimah itu sebagai kerangka epistemologis dengan struktur aqidah–fiqh–tasawwuf yang melahirkan empat prinsip: tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i'tidal (adil/tegak). Prinsip-prinsip yang sama dicantumkan pula pada CPL-1 mata kuliah ini.
D. Khittah Nahdlatul Ulama 1926
Rumusan Khittah NU diputuskan pada Muktamar ke-27 NU di Situbondo (1984), menegaskan kembali NU sebagai jam'iyah diniyah-ijtima'iyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan). Dalam sikap kemasyarakatannya, Khittah menyebut empat prinsip: tawassuth dan i'tidal, tasamuh, tawazun, serta amar ma'ruf nahi munkar. Bagi seorang calon guru dari lingkungan NU, mengajar matematika dan fisika dengan benar dan santun adalah bagian dari khidmah (pengabdian) kepada masyarakat.
E. Nilai luhur Kesultanan Cirebon: Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah)
Syarif Hidayatullah, yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, adalah salah satu dari Wali Songo dan peletak dasar Kesultanan Cirebon. Di bawah kepemimpinannya Cirebon berkembang sebagai pusat perdagangan yang bekerja sama dengan negeri-negeri seperti Malaka, Campa, Arab, India, dan Cina. Masyarakat Cirebon mewarisi sejumlah petatah-petitih yang dinisbatkan kepadanya; yang paling dikenal adalah wasiat "Ingsun titip tajug lan fakir miskin" (aku titipkan tajug/masjid dan fakir miskin). Dalam tafsir yang beredar, tajug menunjuk pada pembinaan akidah dan pusat ilmu, sedangkan fakir miskin menunjuk pada kepedulian sosial dan pemberdayaan ekonomi. Sebagian peneliti mempersoalkan keaslian sejumlah petatah-petitih tertentu, karena itu penulisan "dinisbatkan" sengaja dipakai di sini.
Jembatan dengan topik hari ini: pelabuhan dagang memerlukan takaran, timbangan, dan perhitungan harga yang adil. Al-Qur'an mengaitkan keadilan itu dengan mīzān (neraca): Surah Ar-Rahman ayat 7 sampai 9 memerintahkan menegakkan timbangan dengan adil dan tidak mengurangi neraca, sedangkan Surah Al-Muthaffifin ayat 1 sampai 3 mengecam kecurangan dalam menakar dan menimbang. (Pembaca dianjurkan mencocokkan redaksi dan terjemahan pada Mushaf dan terjemah resmi Kementerian Agama.) Pertidaksamaan memberi bahasa kuantitatif bagi gagasan batas yang wajar: harga tidak boleh di bawah titik impas dan tidak boleh melampaui kemampuan pembeli.
F. Peta integrasi ringkas
| Nilai atau standar | Sumber | Padanan pada topik pertemuan 1 | Praktik di kelas |
|---|---|---|---|
| Tawassuth (moderat) | Qanun Asasi; Khittah NU | Selang "tengah" dan pendekatan seimbang antara prosedur dan pemahaman konsep | Setiap soal dikerjakan dengan prosedur dan diuji nilai |
| Tawazun (seimbang) | Qanun Asasi; Khittah NU; QS. Ar-Rahman 7–9 | Prinsip al-jabr wa al-muqābala: kedua ruas diperlakukan setara | Demonstrasi neraca dan model "timbangan" untuk persamaan |
| I'tidal (adil, tegak) | Qanun Asasi; Khittah NU | Jujur melaporkan hasil ukur dan batas ketidakpastian; logika yang tegak (contoh penyangkal) | Rubrik penilaian transparan; larangan "mengarang" data praktikum |
| Tasamuh (toleran) | Qanun Asasi; Khittah NU | Toleransi ukur ± dan toleransi terhadap ragam strategi penyelesaian | Diskusi: membandingkan dua cara menyelesaikan soal yang sama |
| Amar ma'ruf nahi munkar | Khittah NU | Mengoreksi miskonsepsi teman dengan santun | Tinjauan sejawat (peer review) dengan format "apresiasi, pertanyaan, saran" |
| Ikhlas, tekun, tawadhu' | KH. Hasyim Asy'ari (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim); al-Ghazali (Ihya''Ulumuddin, Kitab al-'Ilm) | Sikap belajar yang tidak tergesa dan mau mengakui kesalahan langkah | Jurnal refleksi 5 menit di akhir kuliah |
| Tajug dan fakir miskin | Wasiat Sunan Gunung Jati | Ilmu untuk pemberdayaan: numerasi bagi madrasah dan pelaku usaha kecil | Proyek mini: rentang harga wajar (Soal C3-3 dan C6-2) |
| SN Dikti dan KKNI | Permendiktisaintek 39/2025; Perpres 8/2012 | Keselarasan CPL–Sub-CPMK–asesmen | Penilaian dengan rubrik ketepatan langkah |
| OBE, Bloom revisi, PISA 2022, NCTM | Spady 1994; Anderson dan Krathwohl 2001; OECD 2023; NCTM 2000 | Soal berjenjang C1–C6; siklus merumuskan–menggunakan–menafsirkan | Bagian C buku ini |
Tabel 1.8. Peta integrasi nilai dan standar pada Pertemuan 1.
Buku ini membedakan dengan tegas antara fakta yang terverifikasi (mis. isi karya al-Khwarizmi, tahun Muktamar Situbondo) dan analogi pedagogis (mis. tawazun ↔︎ keseimbangan dua ruas). Pembedaan semacam ini sendiri adalah wujud i'tidal: adil terhadap sumber.
M Rangkuman dan Peta Konsep
| Topik | Hal yang harus Anda kuasai |
|---|---|
| Sistem bilangan | ℕ ⊂ ℤ ⊂ ℚ ⊂ ℝ; ciri desimal rasional vs irasional; bukti √2 irasional; kerapatan; garis bilangan |
| Aksioma | Lapangan, urutan, kelengkapan. Alasan tanda berbalik pada perkalian dengan bilangan negatif |
| Logika | Implikasi, konvers, invers, kontraposisi; contoh penyangkal; negasi kuantor |
| Interval | Kurung biasa vs siku; gabungan dan irisan; ∞ selalu dengan kurung biasa |
| Pertidaksamaan | Operasi yang diizinkan; metode titik pemecah (linear, kuadrat, polinomial, rasional) |
| Nilai mutlak | │x│ < a ⇔ −a < x < a; │x│ > a ⇔ x < −a atau x > a; kuadratkan bila kedua ruas tak negatif; analisis kasus; ketaksamaan segitiga |
| Fisika | Toleransi, gesekan statis, kinematika, resultan gaya, interval hasil ukur |
| Sikap | Tawassuth, tawazun, tasamuh, i'tidal; jujur ilmiah; adab menuntut ilmu |
Tabel 1.9. Rangkuman pertemuan 1.
Peta konsep (alur berpikir)
| Tahap | Pertanyaan pemandu | Alat |
|---|---|---|
| 1. Pahami | Bilangan apa yang dibicarakan? Apa batas domainnya? | ℝ, interval, domain fisis |
| 2. Rumuskan | Apa pertidaksamaan yang menyatakan situasi ini? | Model matematis, nilai mutlak untuk toleransi |
| 3. Selesaikan | Operasi apa yang aman? Perlu dipecah kasus? | Sifat urutan, titik pemecah, kuadrat kedua ruas |
| 4. Periksa | Apakah titik uji dari tiap selang memenuhi? | Uji nilai, contoh penyangkal |
| 5. Tafsirkan | Apa arti jawaban ini dalam konteks fisika dan etika? | Satuan, batas wajar, kejujuran melaporkan |
Tabel 1.10. Lima tahap berpikir menyelesaikan masalah pertidaksamaan.
Daftar Pustaka
Sumber terverifikasi
- Caglayan, G. (2021, Oktober). Algebra tiles explorations of al-Khwārizmī's equation types. Convergence (Mathematical Association of America). https://doi.org/10.4169/convergence20211004
- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2025). Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. https://peraturan.go.id/files/permendiktisaintek-no-39-tahun-2025.pdf
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (telah dicabut oleh Permendiktisaintek No. 39/2025).
- Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. (2024). Keputusan Kepala BSKAP Nomor 032/H/KR/2024 tentang Capaian Pembelajaran pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka. (Dasar hukum: Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum.)
- Komariah, S. Kearifan lokal pada masyarakat Cirebon. Sosietas (Universitas Pendidikan Indonesia). https://ejournal.upi.edu/index.php/sosietas/article/download/1112/760
- NU Online. (2016, 6 April). Di antara wasiat Sunan Gunung Jati. https://nu.or.id/hikmah/di-antara-wasiat-sunan-gunung-jati-lmaZW
- NU Online. (2018). Festival Tajug berpijak pada wasiat Sunan Gunung Jati. https://nu.or.id/nasional/festival-tajug-berpijak-pada-wasiat-sunan-gunung-jati-w7JfS
- Good News From Indonesia. (2021, 7 Juli). Napak tilas Sunan Gunung Jati Keraton Kasepuhan Cirebon, menyisakan wasiat yang sarat arti. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/07/07/napak-tilas-sunan-gunung-jati-keraton-kasepuhan-cirebon-menyisakan-wasiat-yang-sarat-arti
- NU Online. Khittah NU. https://www.nu.or.id/nasional/khittah-nu-44rmP
- The muqaddimah of Qanun Asasi by KH. Hasyim Asy'ari as an epistemological framework for Aswaja An-Nahdliyah cadre formation. JIEP (Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng), 4(1). https://doi.org/10.33752/jiep.v4i1.11504
- Antara Jatim. Tebuireng Institute serukan NU kembali ke Qanun Asasi. https://jatim.antaranews.com/berita/1035426/tebuireng-institute-serukan-nu-kembali-ke-qanun-asasi
- Varberg, D., Purcell, E. J., & Rigdon, S. E. Calculus (9th ed.). Pearson. (Daftar isi diperiksa pada katalog Pearson: Bab 0 Preliminaries memuat 0.1 Real Numbers, Estimation, and Logic dan 0.2 Inequalities and Absolute Values. Tahun cetak dan ISBN mengikuti salinan yang tersedia.)
- Varberg, D., Purcell, E. J., & Rigdon, S. E. (2013). Calculus: Early Transcendentals (1st ed.). Pearson. (Daftar isi diperiksa pada katalog Pearson Eropa: Bab 1 Preliminaries, subbab 1.1 dan 1.2.)
- Rashed, R. (1994). The Development of Arabic Mathematics: Between Arithmetic and Algebra (A. F. W. Armstrong, Trans.). Springer (Boston Studies in the Philosophy and History of Science, Vol. 156). ISBN 978-0-7923-2565-9.
- Rosen, F. (1831). The Algebra of Mohammed ben Musa. London: Oriental Translation Fund. (Dirujuk melalui Caglayan, 2021; nomor halaman pada kutipan mengikuti Caglayan.)
Pustaka baku
- Karya-karya berikut dikenal luas dan eksis, tetapi saya tidak membaca ulang teksnya pada sesi ini. Mohon verifikasi edisi dan halaman sebelum dikutip secara formal.
- Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (Eds.). (2001). A taxonomy for learning, teaching, and assessing: A revision of Bloom's taxonomy of educational objectives. New York: Longman.
- Bartle, R. G., & Sherbert, D. R. (2011). Introduction to real analysis (4th ed.). Hoboken, NJ: Wiley. (Bab 2: bilangan real.)
- Berggren, J. L. Episodes in the mathematics of medieval Islam. Springer. (Bagian tentang aljabar al-Khwarizmi; contoh 5x + 1 = 2 − 3x untuk al-jabr.)
- Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for quality learning at university (4th ed.). Maidenhead: Open University Press/McGraw-Hill.
- National Council of Teachers of Mathematics. (2000). Principles and standards for school mathematics. Reston, VA: NCTM.
- OECD. (2023). PISA 2022 assessment and analytical framework. Paris: OECD Publishing.
- Rudin, W. (1976). Principles of mathematical analysis (3rd ed.). New York: McGraw-Hill. (Bab 1.)
- Spady, W. G. (1994). Outcome-based education: Critical issues and answers. Arlington, VA: American Association of School Administrators.
- Presiden Republik Indonesia. (2012). Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia.
Sumber primer tradisi
- Al-Khwarizmi, M. ibn Musa. Al-Kitāb al-mukhtaṣar fī ḥisāb al-jabr wa al-muqābala. (Terjemahan Inggris: Rosen, 1831.)
- Hasyim Asy'ari, M. Adab al-'Alim wa al-Muta'allim.
- Al-Ghazali. Ihya''Ulumuddin (Kitab al-'Ilm).
Keterkaitan nilai Aswaja dan kearifan Cirebon dengan topik ini adalah analogi pedagogis, bukan klaim bahwa sumber-sumber tersebut membahas pertidaksamaan.
Latihan
Latihan ini berada pada level C6 (Mencipta): kamu merancang himpunan penyelesaian, model, contoh penyangkal, bukti, dan rencana pembelajaran. Ada 6 soal interaktif bernilai (masing-masing sekitar 16,7 poin) dan 1 tantangan tanpa nilai otomatis. Setelah menekan tombol periksa, kamu hanya melihat skor akhir. Kunci jawaban tidak ditampilkan.
Rancang himpunan penyelesaian. Selesaikan x² − 4x − 12 ≥ 0. Ketuk bagian garis bilangan yang menjadi penyelesaian (titik pemecah dan selang di antaranya dihitung terpisah).
Rancang daerah jarak. │x − 4│ ≥ 3 berarti jarak x dari 4 sedikitnya 3. Ketuk bagian garis bilangan yang memenuhi.
Rancang model toleransi. Sebuah pegas diterima bila panjangnya antara 18,4 cm dan 19,6 cm (kedua ujung ikut). Nyatakan sebagai │L − c│ ≤ r, lalu isi c dan r.
Rancang contoh penyangkal. Klaim: “jika x² > 9 maka x > 3”. Masukkan satu bilangan x yang membuat premis B tetapi kesimpulan S.
Bangun bukti. Diketahui │a│ ≤ 3 dan │b│ ≤ 4. Buktikan │a + b│ ≤ 7 dengan memilih pernyataan dan alasan yang tepat pada tiap baris (satu langkah, satu alasan).
Rancang kegiatan “Numerasi Tajug”. Susun rencana 60 menit untuk siswa madrasah tentang rentang dan toleransi dengan memilih komponen yang paling tepat.
Tantangan dan refleksi. Tidak dinilai otomatis; tulis hasilnya pada catatan di bawah. (1) Rancang satu soal fisika orisinal yang memuat pertidaksamaan nilai mutlak (toleransi) dan pertidaksamaan kuadrat atau rasional, lengkap dengan penyelesaian dan satu miskonsepsi yang diungkap. (2) Apa bedanya “langkah yang sah” dengan “hasil yang kebetulan benar”?
Catatan latihan
Catatan belajar
Bukti penyelesaian
Setelah latihan selesai dan skor keluar, unduh bukti penyelesaian pelajaran ini dalam bentuk gambar PNG yang memuat nama, judul pelajaran, skor, tanggal, dan kode verifikasi.
Gabung dalam percakapan