Memahami Research Gap: Dari Membaca Jurnal hingga Menemukan Masalah Penelitian
Penelitian bukan sekadar mengulang yang sudah ada, tetapi juga bukan mencari yang sama sekali belum ada. Naskah ini menguraikan jenis-jenis gap, cara membaca artikel secara kritis, dan cara mengubah temuan terdahulu menjadi novelty.
Pendidikan Fisika · Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon
jscone@uncirebon.ac.id · www.charirmasirfan.com
SEKILAS NASKAH
Di ruang bimbingan, novelty sering dijelaskan dengan kalimat “belum ada yang meneliti”. Padahal kekosongan saja belum tentu masalah penelitian. Naskah ini menjelaskan bahwa research gap lahir dari sintesis banyak artikel, bukan dari kesan. Pembaca diperkenalkan pada enam jenis gap, tiga tahap membaca artikel ilmiah secara kritis, dan empat langkah mengubah temuan terdahulu menjadi novelty: melokalisasi, mengkarakterisasi, memverifikasi, dan merumuskan. Bagi mahasiswa, naskah ini menjadi pegangan menyusun proposal yang argumentatif; bagi dosen, kerangka untuk membimbing dan menguji novelty secara terarah dan adil.
KATA KUNCI research gap · novelty · tinjauan pustaka · membaca kritis · masalah penelitian
BELUM ADA YANG MENELITI? “Belum ada yang meneliti ini di kampus kami, jadi inilah novelty saya.” Kalimat itu akrab di ruang seminar proposal. Ia terdengar meyakinkan, tetapi menyisakan pertanyaan yang lebih penting: mengapa belum ada? Bisa jadi karena memang peluang, bisa pula karena persoalannya sudah terjawab di tempat lain atau tidak cukup penting untuk diteliti. Membedakan ketiganya adalah inti dari memahami research gap.
Latar Persoalan
Dalam tinjauan pustaka, research gap adalah bagian informasi yang belum dapat disimpulkan. Robinson et al. (2011) menyebut gap muncul ketika bukti yang ada membatasi kemampuan penelaah menarik kesimpulan. Müller-Bloch dan Kranz (2015) menambahkan bahwa gap berasal dari sintesis literatur dan baru terjawab lewat penelitian lanjutan. Kata kuncinya adalah sintesis: gap tidak ditemukan dari satu artikel, apalagi dari kesan bahwa suatu topik jarang dibahas.
Sayangnya, keterampilan ini jarang diajarkan secara sistematis. Robinson et al. (2011) mencatat bahwa gap dalam tinjauan sistematis belum diidentifikasi dengan cara yang sistematis, sedangkan Müller-Bloch dan Kranz (2015) menemukan bahwa pedoman metodologis yang menjaga ketelitian dan keterulangan pencarian gap pada tinjauan kualitatif belum tersedia. Tidak heran bila mahasiswa banyak mengandalkan firasat.
Ada pula persoalan lain. Dalam telaah terhadap 52 artikel studi organisasi, Sandberg dan Alvesson (2011) menemukan bahwa cara paling umum menyusun pertanyaan penelitian adalah menunjuk gap pada literatur lalu merumuskan pertanyaan darinya. Cara ini sah, tetapi bila asumsi yang mendasari literatur tidak ikut ditimbang, hasilnya cenderung menambah, bukan menantang (Alvesson & Sandberg, 2011). Mahasiswa perlu tahu bahwa gap adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir.
Naskah ini mengusulkan cara berpikir sederhana: mulai dari lima pintu masuk, turunkan menjadi pertanyaan yang bermakna, lalu uji dengan kriteria kelayakan yang jelas. Kerangka ini ditujukan bagi mahasiswa yang sedang mencari topik dan bagi dosen yang ingin menata agenda risetnya.
“Gap bukan lubang di peta bacaan, melainkan pertanyaan yang belum bisa dijawab oleh bukti yang ada.”
Gagasan Utama
ENAM JENIS GAP DAN CARA MENCARINYA
Mengenali jenis gap membantu kita menentukan penelitian seperti apa yang dibutuhkan. Müller-Bloch dan Kranz (2015) menganalisis 40 tinjauan pustaka di jurnal sistem informasi terkemuka, menemukan 555 gap, dan menggolongkannya ke dalam enam jenis yang menyempurnakan tipologi masalah penelitian sebelumnya. Tabel 1 meringkasnya; contoh di kolom ketiga hanyalah ilustrasi dari bidang pendidikan sains dan matematika.
Tabel 1. Enam jenis research gap
| Jenis gap | Ciri utama | Contoh ilustrasi |
|---|---|---|
| Kekosongan pengetahuan | Temuan yang dibutuhkan belum ada. | Pola miskonsepsi suatu konsep belum dipetakan pada calon guru di daerah tertentu. |
| Bukti bertentangan | Studi-studi menyimpulkan hal yang berbeda. | Simulasi digital meningkatkan pemahaman pada satu studi, tetapi tidak pada studi lain. |
| Konflik metodologis | Topik hanya dikaji dengan satu jenis metode. | Semua studi memakai tes pilihan ganda; penalaran lisan belum ditelaah. |
| Kekosongan evaluasi | Gagasan atau temuan belum diuji secara empiris. | Model pembelajaran yang diusulkan secara konseptual belum diuji di kelas. |
| Kekosongan penerapan teori | Teori yang relevan belum dipakai. | Teori beban kognitif belum dipakai untuk menjelaskan kesulitan soal cerita. |
| Konflik tindakan–pengetahuan | Praktik menyimpang dari temuan riset. | Temuan tentang umpan balik belum tercermin dalam praktik penilaian. |
Sumber: diolah penulis dari Müller-Bloch dan Kranz (2015)
Setiap jenis menuntut cara pencarian berbeda (Müller-Bloch & Kranz, 2015). Bukti yang bertentangan ditemukan dengan merangkum temuan utama lalu mencari pertentangannya. Konflik metodologis tampak ketika suatu topik selalu dikaji dengan pendekatan yang sama. Kekosongan penerapan teori terlihat dengan menelaah teori yang sudah dipakai, lalu mencari teori lain yang dapat memberi sudut pandang pelengkap. Kekosongan evaluasi dikenali dengan memeriksa apakah suatu usulan sudah diuji secara empiris.
Dua catatan perlu diingat. Pertama, 467 dari 555 gap (84%) dalam studi itu berupa kekosongan pengetahuan. Para penulisnya menduga hal ini terkait dinamika bidang mereka yang terus melahirkan topik baru, dan karena sampelnya dari sistem informasi, proporsi di bidang lain bisa berbeda. Kedua, Robinson et al. (2011) menambahkan pertanyaan yang tak kalah penting: mengapa gap itu ada? Sebabnya bisa informasi yang kurang atau tidak tepat, bias, hasil yang tidak konsisten, atau memang bukan informasi yang dibutuhkan. Gap juga dapat dirinci dengan unsur populasi, intervensi, pembanding, luaran, dan latar.
Membaca Artikel Ilmiah Secara Kritis
Gap tidak muncul dari membaca cepat. Keshav (2007) menyarankan membaca artikel dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah pindaian lima sampai sepuluh menit atas judul, abstrak, pendahuluan, judul bagian, dan kesimpulan untuk memutuskan apakah artikel layak dibaca lebih jauh. Tahap kedua, paling lama sekitar satu jam, bertujuan menangkap isi: Anda harus mampu meringkas gagasan utama beserta buktinya kepada orang lain. Tahap ketiga, yang memakan waktu beberapa jam, dipakai untuk memahami artikel sampai ke detailnya, termasuk asumsi tersirat dan rujukan penting yang terlewat.
Untuk memburu gap, pasang lensa khusus pada tahap kedua dan ketiga. Catat masalah yang hendak dijawab, subjek penelitian, cara pengumpulan data, temuan utama, dan keterbatasan yang diakui penulis. Bagian keterbatasan dan saran penelitian lanjutan sering menjadi petunjuk awal, tetapi jangan berhenti di sana. Tanyakan pula apakah bukti cukup menopang klaim, asumsi apa yang dipakai diam-diam, dan apakah metode sesuai dengan pertanyaannya.
Kumpulkan hasil bacaan dalam matriks konsep, yaitu tabel dengan artikel pada baris dan konsep, metode, atau konteks pada kolom (Webster & Watson, 2002). Sel yang tetap kosong dapat menandai wilayah yang kurang diteliti (Müller-Bloch & Kranz, 2015), sedangkan kolom berisi temuan yang saling bertentangan menandai bukti yang belum sepakat. Matriks mengubah kesan menjadi catatan yang dapat diperiksa pembimbing.
Dari GAP Ke Novelty
Setelah gap ditemukan, tugas berikutnya adalah mengubahnya menjadi kontribusi. Kerangka Müller-Bloch dan Kranz (2015) memuat empat komponen: lokalisasi, karakterisasi, verifikasi, dan presentasi gap. Gambar 1 menyajikan versi yang disesuaikan untuk penyusunan proposal, dengan langkah terakhir berupa perumusan novelty.
![]() |
| Gambar 1. Empat langkah mengubah gap menjadi novelty. Sumber: disesuaikan penulis dari Müller-Bloch dan Kranz (2015) |
Lokalisasi dan karakterisasi. Lokalisasi berarti menemukan sel kosong atau pertentangan pada matriks bacaan. Karakterisasi berarti menentukan jenis dan alasan gap tersebut. Keduanya penting karena jenis gap menunjukkan penelitian yang diperlukan: bukti bertentangan membutuhkan penjelasan yang dapat menampung semua temuan, konflik metodologis meminta variasi metode, dan kekosongan evaluasi meminta pengujian empiris (Müller-Bloch & Kranz, 2015).
Verifikasi. Inilah tahap yang paling sering dilewati. Tidak ada yang sanggup membaca seluruh literatur, sehingga gap yang tampak belum tentu masih terbuka. Müller-Bloch dan Kranz (2015) menyarankan penelusuran maju atas artikel sumber gap, karena peneliti yang sudah menutup gap itu biasanya mengutip artikel tersebut, ditambah pencarian pada basis data dan telaah buku teks. Verifikasi juga dapat melibatkan praktisi, misalnya guru, melalui survei atau diskusi kelompok terarah untuk menilai apakah gap itu penting bagi mereka.
Perumusan novelty. Satu pola yang dapat dipakai: “Berbeda dari penelitian A dan B yang …, penelitian ini …, karena ….” Bagian “karena” memuat jenis gap dan alasannya; tanpa itu, novelty hanya berupa pergantian objek, lokasi, atau subjek. Novelty yang baik juga harus lolos uji signifikansi, yakni mengapa orang lain perlu peduli pada jawabannya (Booth et al., 2024). Kebaruan yang paling kuat sering lahir dari menggugat asumsi, sebagaimana ditawarkan Alvesson dan Sandberg (2011) melalui problematisasi.
Bagaimana dengan mengulang penelitian? Mengulang secara terencana bukan dosa. Open Science Collaboration (2015) mereplikasi 100 studi psikologi: 97% studi asli meraih hasil signifikan secara statistik, sedangkan hanya 36% replikasinya. Angka itu bukan vonis atas seluruh ilmu, tetapi menunjukkan bahwa temuan yang tampak mapan pun perlu diuji ulang pada konteks dan data berbeda. Replikasi dengan alasan yang jelas adalah kekosongan evaluasi yang sah.
Empat Jebakan Yang Perlu Dihindari
Jebakan pertama adalah menjadikan “belum ada yang meneliti” satu-satunya dasar novelty. Kekosongan bisa berarti peluang, tetapi bisa pula berarti persoalan itu sulit diukur atau kurang penting. Jebakan kedua adalah menyimpulkan gap dari satu atau dua artikel, padahal sintesis membutuhkan banyak sumber. Jebakan ketiga adalah novelty kosmetik: mengganti lokasi atau subjek tanpa menjelaskan mengapa konteks baru itu mengubah pemahaman kita.
Jebakan keempat adalah mengandalkan kecerdasan buatan tanpa memeriksa. Walters dan Wilder (2023) menelaah 636 sitasi dalam 84 tinjauan pustaka buatan ChatGPT pada 42 topik dan menemukan bahwa 55% sitasi GPT-3.5 dan 18% sitasi GPT-4 adalah fiktif. Alat semacam ini boleh membantu meringkas, tetapi setiap rujukan dan klaim gap harus dicek langsung pada sumber aslinya.
GAGASAN KUNCI
- Research gap lahir dari sintesis banyak artikel, bukan dari kesan bahwa topik jarang dibahas.
- Mengenali jenis dan alasan gap menentukan penelitian apa yang dibutuhkan, sedangkan matriks bacaan mengubah kesan menjadi bukti.
- Novelty yang kuat dirumuskan setelah verifikasi dan dijelaskan alasannya, bukan sekadar mengganti objek atau lokasi.
Implikasi dan Rekomendasi
Gagasan di atas dapat dijalankan dalam empat langkah praktis oleh mahasiswa, pembimbing, dan program studi.
- Bangun matriks bacaan. Kumpulkan artikel terbaru yang relevan, lalu susun matriks dengan kolom konsep, metode, konteks, dan temuan. Tandai sel kosong serta temuan yang bertentangan (Webster & Watson, 2002).
- Beri label setiap gap. Tulis jenisnya dan alasan keberadaannya, misalnya kekosongan evaluasi karena usulan belum pernah diuji (Müller-Bloch & Kranz, 2015; Robinson et al., 2011).
- Verifikasi sebelum menulis proposal. Lakukan penelusuran maju, cari pada basis data, dan diskusikan dengan pembimbing atau praktisi untuk memastikan gap belum tertutup dan memang penting.
- Gunakan kartu novelty dalam bimbingan. Bagi dosen, minta mahasiswa menulis satu halaman berisi gap, jenisnya, bukti verifikasi, dan kontribusi yang dijanjikan. Kumpulkan kartu-kartu itu menjadi peta riset program studi agar tiap skripsi menjadi potongan dari agenda yang lebih besar.
Penutup
Research gap bukan harta karun yang tersembunyi menunggu ditemukan. Ia hasil kerja membaca, membandingkan, dan menguji. Mahasiswa yang terbiasa menelusuri jenis dan alasan sebuah gap akan lebih tenang menjawab pertanyaan penguji, dan penelitiannya lebih mungkin memberi sumbangan nyata. Tugas kita, para dosen, adalah menuntun mereka dari kalimat “belum ada yang meneliti” menuju pertanyaan yang lebih tajam: apa yang belum kita ketahui, dan mengapa itu penting?
Rujukan
- Alvesson, M., & Sandberg, J. (2011). Generating research questions through problematization. Academy of Management Review, 36(2), 247–271. https://doi.org/10.5465/amr.2011.59330882
- Booth, W. C., Colomb, G. G., Williams, J. M., Bizup, J., & FitzGerald, W. T. (2024). The craft of research (5th ed.). University of Chicago Press.
- Keshav, S. (2007). How to read a paper. ACM SIGCOMM Computer Communication Review, 37(3), 83–84. https://doi.org/10.1145/1273445.1273458
- Müller-Bloch, C., & Kranz, J. (2015). A framework for rigorously identifying research gaps in qualitative literature reviews. Dalam Proceedings of the 36th International Conference on Information Systems (ICIS 2015). Association for Information Systems. https://aisel.aisnet.org/icis2015/proceedings/ResearchMethods/2
- Open Science Collaboration. (2015). Estimating the reproducibility of psychological science. Science, 349(6251), Artikel aac4716. https://doi.org/10.1126/science.aac4716
- Robinson, K. A., Saldanha, I. J., & McKoy, N. A. (2011). Development of a framework to identify research gaps from systematic reviews. Journal of Clinical Epidemiology, 64(12), 1325–1330. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21937195/
- Sandberg, J., & Alvesson, M. (2011). Ways of constructing research questions: Gap-spotting or problematization? Organization, 18(1), 23–44. https://doi.org/10.1177/1350508410372151
- Walters, W. H., & Wilder, E. I. (2023). Fabrication and errors in the bibliographic citations generated by ChatGPT. Scientific Reports, 13, Artikel 14045. https://doi.org/10.1038/s41598-023-41032-5
- Webster, J., & Watson, R. T. (2002). Analyzing the past to prepare for the future: Writing a literature review. MIS Quarterly, 26(2), xiii–xxiii.
TENTANG PENULIS
Muhammad Irfan Habibi, M.Pd Tenaga Pendidik · Pendidikan Fisika · Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon. Muhammad Irfan Habibi terlahir di Kota Cirebon, Mas Irfan Cirebon merupakan panggilan yang akrab. Bidang keahlian utama Mas Irfan Cirebon yaitu Matematika. Hobi Mas Irfan Cirebon diantaranya membaca buku, mengerjakan soal matematika, dan riset hal baru ataupun lama. Selain itu Mas Irfan Cirebon lebih senang jiarah kemakam-makam terutama makam orang tua dan Sunan Gunung Jati. jscone@uncirebon.ac.id · www.charirmasirfan.com |
|---|

Gabung dalam percakapan