Dari Rasa Penasaran ke Masalah: Menemukan Ide Penelitian yang Layak dan Relevan

Topik yang menarik belum tentu layak diteliti. Naskah ini menawarkan lima pintu masuk dan satu uji kelayakan bagi mahasiswa yang mencari masalah penelitian, sekaligus kerangka bagi dosen yang menyusun agenda riset.

Oleh: Muhammad Irfan Habibi
Pendidikan Fisika · Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon
jscone@uncirebon.ac.id · www.charirmasirfan.com

SEKILAS NASKAH

Banyak mahasiswa memulai penelitian dari topik yang menarik, lalu tersendat ketika ditanya apa masalahnya dan mengapa jawabannya penting. Naskah ini menjelaskan cara bergerak dari topik menuju masalah penelitian melalui lima pintu masuk: fenomena nyata, kesenjangan teori dan penelitian terdahulu, kebutuhan masyarakat, perkembangan teknologi, dan persoalan keilmuan. Setiap gagasan kemudian diuji dengan lima kriteria kelayakan dan disaring melalui verifikasi mandiri, termasuk ketika memakai kecerdasan buatan. Bagi mahasiswa, naskah ini menjadi panduan memilih topik; bagi dosen, kerangka menyusun agenda riset yang selaras dengan kebutuhan bangsa.

KATA KUNCI ide penelitian · masalah penelitian · kesenjangan riset · relevansi · perguruan tinggi

BUKAN SEKADAR TOPIK. “Saya tertarik meneliti media pembelajaran.” Kalimat semacam ini akrab di ruang bimbingan. Ia jujur, tetapi baru menunjuk wilayah minat, belum masalah yang bisa diteliti. Di titik inilah banyak rencana penelitian tersendat, padahal bagi Indonesia yang sedang memperkuat riset, kemampuan menemukan masalah yang tepat sama pentingnya dengan kemampuan menganalisis data.

Latar Persoalan

Buku klasik metodologi The Craft of Research membedakan tiga lapis pemikiran yang sering tercampur: topik, pertanyaan, dan signifikansi (Booth et al., 2024). Topik menyebut apa yang ingin dipelajari. Pertanyaan menyatakan apa yang belum diketahui tentang topik itu. Signifikansi menjawab mengapa orang lain perlu peduli pada jawabannya. Rencana penelitian yang berhenti di lapis pertama terdengar menarik, tetapi rapuh ketika diuji pembimbing, penelaah, atau pemberi dana.

Persoalannya bukan hanya kemampuan individu mahasiswa. Riset di perguruan tinggi juga bergerak dalam arah yang lebih besar. Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2018 menetapkan Rencana Induk Riset Nasional 2017–2045 sebagai dokumen perencanaan riset yang selaras dengan perencanaan pembangunan nasional, lengkap dengan prioritas riset lima tahunan sebagai dokumen pelaksanaannya (Presiden Republik Indonesia, 2018). Ide penelitian yang baik karena itu idealnya bertemu dengan kebutuhan yang lebih luas daripada minat pribadi peneliti.

Naskah ini mengusulkan cara berpikir sederhana: mulai dari lima pintu masuk, turunkan menjadi pertanyaan yang bermakna, lalu uji dengan kriteria kelayakan yang jelas. Kerangka ini ditujukan bagi mahasiswa yang sedang mencari topik dan bagi dosen yang ingin menata agenda risetnya.

“Topik adalah wilayah yang kita minati; masalah adalah ketidaktahuan yang layak dijawab.”

Gagasan Utama

Dari Topik Ke Pertanyaan Yang Bermakna

Langkah pertama adalah menurunkan topik menjadi pertanyaan. Sebagai ilustrasi, topik “media pembelajaran” dapat dipersempit menjadi “simulasi dalam pembelajaran konsep gelombang”, lalu dirumuskan sebagai pertanyaan: mengapa mahasiswa yang sudah memakai simulasi masih keliru menjelaskan peristiwa interferensi? Pertanyaan yang baik menunjuk pada sesuatu yang belum dipahami, bukan sesuatu yang jawabannya sudah tersedia di buku teks.

Langkah kedua adalah menguji signifikansi. Tanyakan apa akibatnya bila pertanyaan itu tidak pernah dijawab dan siapa yang akan terbantu bila terjawab. Jika jawabannya kosong, pertanyaan itu mungkin baru berupa rasa ingin tahu pribadi yang belum siap menjadi penelitian.

Rumusan lengkapnya dapat berbunyi begini: saya meneliti pemanfaatan simulasi dalam pembelajaran gelombang, karena ingin mengetahui mengapa mahasiswa masih keliru menjelaskan interferensi, agar dosen dapat merancang kegiatan yang benar-benar memperbaiki pemahaman konsep. Rumusan tiga bagian ini mengikuti pola yang dipopulerkan Booth et al. (2024). Bila salah satu bagian sulit ditulis, itu tanda bahwa ide belum matang. Gambar 1 merangkum alurnya.

Gambar 1.  Alur dari titik awal menuju pertanyaan penelitian yang bermakna. Sumber: diolah penulis dari Booth et al. (2024)

Lima Pintu Masuk Menuju Masalah

Dari mana masalah datang? Ada lima pintu masuk yang dapat dicoba, seperti diringkas pada Tabel 1. Pintu-pintu ini tidak saling meniadakan; ide terbaik sering berada di pertemuan dua pintu atau lebih.

Fenomena nyata. Mulailah dari selisih antara harapan dan kenyataan yang Anda saksikan sendiri di kelas, laboratorium, tempat magang, atau masyarakat. Catat kejadiannya secara rinci sebelum mencari teorinya. Selisih yang berulang dan dapat dijelaskan dengan konsep keilmuan adalah bahan mentah masalah penelitian.

Kesenjangan teori dan penelitian terdahulu. Bacalah bagian keterbatasan dan saran penelitian lanjutan pada artikel terbaru. Robinson et al. (2011) menyarankan agar celah dicirikan dengan unsur populasi, intervensi, pembanding, luaran, dan latar, lalu ditanyakan mengapa celah itu ada: informasi kurang atau tidak tepat, bias, hasil yang tidak konsisten, atau memang bukan informasi yang dibutuhkan. Kerangka ini lahir dari kajian kesehatan, tetapi logikanya dapat dipinjam bidang lain. Müller-Bloch dan Kranz (2015), yang menelaah 40 tinjauan pustaka, menunjukkan bahwa pencarian celah memerlukan prosedur yang teliti dan dapat diulang, bukan sekadar firasat.

Lebih dari sekadar celah. Mencari celah saja belum cukup. Alvesson dan Sandberg (2011), yang berangkat dari kajian manajemen, mengingatkan bahwa cara umum menyusun pertanyaan penelitian, yakni menemukan atau menyusun celah, cenderung mengukuhkan asumsi yang sudah ada. Mereka menawarkan problematisasi: mengidentifikasi lalu menggugat asumsi yang mendasari literatur, dengan harapan lahir teori yang lebih berpengaruh. Bertanya “asumsi apa yang selama ini kita anggap benar?” sering lebih produktif daripada bertanya “apa yang belum diteliti?”

Kebutuhan masyarakat. Tanyakan siapa yang menanggung masalah itu dan apa yang mereka perlukan. Agenda pembangunan berkelanjutan dengan 17 tujuannya (United Nations, 2015) dan prioritas riset nasional dapat menjadi peta awal. Percakapan langsung dengan sekolah, pelaku usaha kecil, atau pemerintah daerah biasanya memberi konteks yang lebih tajam. Masalah yang lahir dari kebutuhan nyata membuat pertanyaan “untuk apa” lebih mudah dijawab.

Perkembangan teknologi. Teknologi baru membuka pertanyaan baru sekaligus risiko baru. Kecerdasan buatan (AI) kini dapat membantu memetakan bacaan dan memunculkan gagasan. Dalam studi terhadap lebih dari 100 peneliti pemrosesan bahasa alami, gagasan yang dihasilkan model bahasa besar dinilai lebih baru daripada gagasan para pakar, tetapi sedikit lebih lemah dari sisi kelayakan (Si et al., 2025). Di sisi lain, telaah atas 636 sitasi dari tinjauan pustaka buatan ChatGPT menemukan bahwa 55% sitasi GPT-3.5 dan 18% sitasi GPT-4 adalah fiktif (Walters & Wilder, 2023). Pelajarannya jelas: jadikan AI mitra curah gagasan, bukan sumber kebenaran, dan periksa sendiri setiap rujukan.

Persoalan keilmuan. Setiap bidang memiliki anomali: temuan yang saling bertentangan, konsep yang dipakai berbeda-beda, atau metode yang diragukan. Persoalan semacam ini adalah tambang masalah bagi dosen dan mahasiswa pascasarjana karena langsung berkaitan dengan pengembangan ilmu. Pertentangan antarstudi dapat dibaca sebagai undangan untuk menelusuri konteks yang belum dipertimbangkan.

Tabel 1.  Lima pintu masuk menuju masalah penelitian

Pintu masuk Pertanyaan pemandu Contoh arah masalah
Fenomena nyata Apa yang terjadi berbeda dari yang seharusnya? Mahasiswa mampu berhitung, tetapi keliru menjelaskan konsep.
Kesenjangan teori dan penelitian Bukti apa yang kurang, bias, atau saling bertentangan? Hasil studi berbeda antarkonteks tanpa penjelasan sebabnya.
Kebutuhan masyarakat Siapa yang menanggung masalah ini dan apa yang ia perlukan? Alat ukur sederhana bagi pelaku usaha kecil.
Perkembangan teknologi Apa yang kini mungkin, dan apa risikonya? Mutu umpan balik AI pada tugas mahasiswa.
Persoalan keilmuan Asumsi mana yang layak digugat? Anggapan bahwa nilai ujian mencerminkan pemahaman.

Menguji Kelayakan Dengan Finer

Setelah beberapa ide terkumpul, saringlah dengan lima kriteria FINER yang dipopulerkan Hulley et al. (2013): feasible (dapat dikerjakan dengan waktu, biaya, dan keahlian yang ada), interesting (menarik bagi peneliti dan koleganya), novel (menambah, mengonfirmasi, menyangkal, atau memperluas temuan terdahulu), ethical (dapat dilakukan secara etis), dan relevant (bermakna bagi ilmu, praktik, atau kebijakan). Kerangka ini semula disusun untuk penelitian klinis, tetapi pertanyaannya berlaku luas.

Perhatikan bahwa kebaruan tidak selalu berarti penemuan yang sama sekali baru. Replikasi pada populasi atau konteks berbeda tetap sah bila menjawab keraguan yang nyata. Ide yang sangat disukai mahasiswa tetapi gagal pada kelayakan atau etika sebaiknya dipersempit, bukan dipaksakan.

Empat Jebakan Yang Perlu Dihindari

Jebakan pertama adalah mengejar topik populer tanpa masalah. Topik yang sedang ramai memang mudah mendapat bahan bacaan, tetapi keramaian bukan bukti bahwa ada sesuatu yang belum diketahui. Jebakan kedua adalah merumuskan masalah terlalu luas. Pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan sumber daya yang tersedia gagal pada kriteria kelayakan sejak awal.

Jebakan ketiga adalah menyimpulkan bahwa “belum ada yang meneliti” berarti layak diteliti. Kekosongan bisa berarti peluang, tetapi bisa pula berarti persoalan itu kurang penting atau sulit diukur. Karena itu, setiap kekosongan perlu disertai jawaban atas pertanyaan: apa artinya bila kekosongan ini terisi? Jebakan keempat adalah menjadikan alat sebagai masalah. “Saya ingin memakai metode tertentu” adalah pilihan cara, bukan rumusan masalah; metode yang baik selalu melayani pertanyaan, bukan sebaliknya.

GAGASAN KUNCI

  • Topik baru menjadi masalah penelitian ketika kita dapat menyebut apa yang belum diketahui dan mengapa jawabannya penting.
  • Fenomena, kesenjangan, kebutuhan, teknologi, dan persoalan keilmuan adalah pintu masuk; asumsi yang digugat sering lebih bernilai daripada sekadar celah.
  • Setiap ide perlu diuji dengan FINER dan disaring lewat verifikasi mandiri, termasuk saat memakai AI.

Penutup

Ide penelitian yang layak jarang datang sebagai kilatan ilham. Ia tumbuh dari perhatian pada kenyataan, ketelitian membaca literatur, kesediaan mendengar kebutuhan orang lain, dan kedisiplinan menguji gagasan sendiri. Mahasiswa yang melatih kebiasaan ini akan menemukan bahwa masalah penelitian sebenarnya ada di sekitar mereka. Tugas kita, para dosen, adalah menuntun mereka dari rasa penasaran menuju pertanyaan yang pantas dijawab.

Rujukan

  • Alvesson, M., & Sandberg, J. (2011). Generating research questions through problematization. Academy of Management Review, 36(2), 247–271. https://doi.org/10.5465/amr.2011.59330882
  • Booth, W. C., Colomb, G. G., Williams, J. M., Bizup, J., & FitzGerald, W. T. (2024). The craft of research (5th ed.). University of Chicago Press.
  • Hulley, S. B., Cummings, S. R., Browner, W. S., Grady, D. G., & Newman, T. B. (2013). Designing clinical research (4th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.
  • Müller-Bloch, C., & Kranz, J. (2015). A framework for rigorously identifying research gaps in qualitative literature reviews. Dalam Proceedings of the 36th International Conference on Information Systems (ICIS 2015). Association for Information Systems. https://aisel.aisnet.org/icis2015/proceedings/ResearchMethods/2
  • Presiden Republik Indonesia. (2018). Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional Tahun 2017–2045. https://www.kemhan.go.id/itjen/wp-content/uploads/2018/10/ps38-2018.pdf
  • Robinson, K. A., Saldanha, I. J., & McKoy, N. A. (2011). Development of a framework to identify research gaps from systematic reviews. Journal of Clinical Epidemiology, 64(12), 1325–1330. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21937195/
  • Si, C., Yang, D., & Hashimoto, T. (2025). Can LLMs generate novel research ideas? A large-scale human study with 100+ NLP researchers [Makalah konferensi]. International Conference on Learning Representations (ICLR 2025). https://arxiv.org/abs/2409.04109
  • United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 Agenda for Sustainable Development (A/RES/70/1). https://sdgs.un.org/2030agenda
  • Walters, W. H., & Wilder, E. I. (2023). Fabrication and errors in the bibliographic citations generated by ChatGPT. Scientific Reports, 13, Artikel 14045. https://doi.org/10.1038/s41598-023-41032-5

TENTANG PENULIS

Muhammad Irfan Habibi, M.Pd
Tenaga Pendidik · Pendidikan Fisika · Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon.

Muhammad Irfan Habibi terlahir di Kota Cirebon, Mas Irfan Cirebon merupakan panggilan yang akrab. Bidang keahlian utama Mas Irfan Cirebon yaitu Matematika. Hobi Mas Irfan Cirebon diantaranya membaca buku, mengerjakan soal matematika, dan riset hal baru ataupun lama. Selain itu Mas Irfan Cirebon lebih senang jiarah kemakam-makam terutama makam orang tua dan Sunan Gunung Jati.

jscone@uncirebon.ac.id · www.charirmasirfan.com

Download Artikel

NextGen Digital... Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...