Radikalisasi Kurikulum Saintifik: Antara Indoktrinasi Ideologis dan Emansipasi Kritis
Fenomena ini memunculkan istilah “radikalisasi kurikulum
saintifik” yang mengacu pada proses di mana kurikulum sains—yang seharusnya
berbasis pada penalaran kritis, keterbukaan terhadap bukti, dan metode
ilmiah—direkayasa untuk tujuan-tujuan di luar esensi keilmuan itu sendiri.
Menariknya, konsep ini memiliki dua wajah yang saling bertolak belakang. Di
satu sisi, terdapat radikalisasi kurikulum oleh kelompok ekstremis yang
menjadikan sains sebagai alat propaganda dan doktrinasi. Di sisi lain, terdapat
gerakan pedagogi kritis yang secara sadar mengadopsi pendekatan “radikal” untuk
membebaskan pendidikan sains dari hegemoni kapitalisme neoliberal, rasisme, dan
ketidakadilan struktural.
Artikel ini akan mengupas tuntas fenomena radikalisasi
kurikulum saintifik berdasarkan analisis atas 20 artikel jurnal ilmiah
internasional terindeks Q1 hingga Q4 yang terbit antara tahun 2000 hingga 2026.
Pembahasan dimulai dari pengertian konseptual, dilanjutkan dengan pemetaan
temuan-temuan kunci dari berbagai studi, serta diakhiri dengan refleksi kritis
dan rekomendasi praktis bagi para pendidik, pembuat kebijakan, dan peneliti.
Memahami Radikalisasi Kurikulum Saintifik
Pengertian dari Berbagai Sudut Pandang
Radikalisasi kurikulum saintifik, dalam pengertian yang
paling fundamental, adalah proses transformasi kurikulum sains dari wahana
pengembangan penalaran kritis menjadi alat penyebaran ideologi tertentu. Proses
ini dapat terjadi melalui berbagai mekanisme: penggantian konten ilmiah dengan
dogma, penyisipan narasi ideologis ke dalam materi pelajaran, atau penghilangan
elemen-elemen yang dianggap bertentangan dengan kepentingan penguasa.
Dalam konteks kekuasaan totaliter, radikalisasi kurikulum
saintifik berarti penundukan sains di bawah otoritas teologis atau politis.
Sebagaimana diungkap oleh Potvin dan koleganya, kurikulum sains ISIS
menunjukkan komitmen yang kuat terhadap program ideologis absolutis/teokratis
yang mempromosikan konsep aktivitas ilmiah yang sangat tidak memadai. Sains
dalam kurikulum ini disubordinasikan di bawah otoritas teologis, sehingga
esensi sains sebagai aktivitas kritis dan tentatif hancur oleh dogma.
Sementara itu, dalam tradisi pedagogi kritis yang
terinspirasi Paulo Freire, istilah “radikal” memiliki makna yang sangat
berbeda. Sebagaimana dijelaskan oleh Fernandes dan rekannya, dialog antara
pemikiran Freire tentang pendidikan problem-posing dan teori kode linguistik
Bernstein dapat menghasilkan model kurikulum sains kontra-hegemonik yang
mengatasi reproduksi ketidaksetaraan sosial. Santos (2009) lebih jauh
memosisikan perspektif Freirean sebagai pandangan radikal tentang literasi
saintifik yang berkomitmen pada aksi sosiopolitik, bukan sekadar pemahaman
konsep sains.
Dengan demikian, “radikalisasi kurikulum saintifik” bukanlah
istilah yang monolitik. Ia merujuk pada dua fenomena yang secara ideologis
bertentangan namun sama-sama menolak netralitas kurikulum saintifik:
radikalisasi sebagai indoktrinasi dan radikalisasi sebagai emansipasi.
Konsep Dasar dan Landasan Ilmiah
Untuk memahami fenomena ini secara utuh, kita perlu mengenal
beberapa konsep dasar yang menjadi landasan teoretisnya.
Pertama, konsep tentang tiga visi literasi saintifik. Dalam
perkembangan studi literasi saintifik, dikenal tiga visi yang saling bersaing.
Vision I berfokus pada penguasaan konten dan produk sains. Vision II menekankan
pemahaman tentang bagaimana sains bekerja dalam konteks sosial. Sementara
Vision III, sebagaimana dirumuskan dalam kajian sistematis tahun 2025, mencakup
dimensi etiko-sosio-politik dan relasional-eksistensial, dengan penekanan pada
isu sains-teknologi-masyarakat (STS), agensi, nilai filosofis, perspektif
kultural-eksistensial, dan pengetahuan yang diwujudkan (embodied knowledge).
Visi ketiga inilah yang menjadi medan pertarungan antara pendekatan teknokratis
dan pendekatan kritis dalam kurikulum sains.
Kedua, konsep kesadaran kritis saintifik (Scientific
Critical Consciousness atau SCC) yang dikembangkan oleh Mirza (2025). SCC
adalah kerangka teoretis dan kurikulum untuk menanamkan kesadaran kritis pada
peserta didik agar mampu mengidentifikasi ideologi sekuler-liberal yang sering
dibingkai sebagai “netral” atau “objektif” dalam buku teks sains dan literatur
yang lebih luas. Konsep ini merupakan adaptasi dari gagasan Freire, Greene,
Boler, dan Anyon ke dalam konteks pendidikan sains.
Ketiga, teori reproduksi dan resistensi dalam pendidikan
yang dikembangkan oleh Bernstein dan Freire. Bernstein menjelaskan bagaimana
kode-kode linguistik dan struktur kurikulum dapat mereproduksi ketidaksetaraan
sosial, sementara Freire menawarkan pendidikan problem-posing sebagai
alternatif emansipatoris. Dialog antara kedua teori ini, sebagaimana diusulkan
oleh Fernandes dan koleganya (2026), menjadi landasan bagi pengembangan
kurikulum sains kontra-hegemonik.
Tujuan, Fungsi, dan Manfaat dalam Penelitian
Mempelajari radikalisasi kurikulum saintifik memiliki
beberapa tujuan penting dalam konteks penelitian pendidikan:
- Tujuan deskriptif: Mengidentifikasi dan mendokumentasikan bagaimana kurikulum sains diradikalisasi oleh berbagai aktor, baik kelompok ekstremis maupun negara.
- Tujuan kritis: Mengevaluasi asumsi-asumsi tersembunyi dalam kebijakan dan praktik kurikulum sains yang mungkin mengandung bias ideologis.
- Tujuan transformatif: Mengembangkan alternatif kurikulum yang lebih adil, inklusif, dan emansipatoris.
Fungsi penelitian dalam bidang ini adalah untuk memberikan
peringatan dini tentang bahaya indoktrinasi melalui pendidikan sains, sekaligus
menyediakan landasan bagi pengembangan pedagogi yang memberdayakan. Manfaatnya
sangat luas: bagi pembuat kebijakan, penelitian ini membantu merumuskan
kebijakan kurikulum yang lebih sadar akan risiko ideologis; bagi pendidik,
penelitian ini memberikan kesadaran kritis tentang praktik mengajar mereka;
bagi peneliti, bidang ini membuka agenda-agenda riset baru yang relevan dengan
isu-isu kontemporer seperti krisis iklim, radikalisme, dan ketidakadilan
global.
Radikalisasi Kurikulum oleh Kelompok Ekstremis: Studi Kasus ISIS
Temuan Utama tentang Kurikulum Sains ISIS
Salah satu bukti paling nyata tentang radikalisasi kurikulum
saintifik datang dari analisis kurikulum pendidikan yang dikembangkan oleh
Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Dalam penelitian yang disebut sebagai
“analisis yang belum pernah terjadi sebelumnya” (unprecedented analysis),
Potvin dan timnya mengkaji kurikulum sains tingkat dasar ISIS dan menemukan
bahwa kurikulum tersebut sepenuhnya dikompromikan oleh agenda ideologis.
Kurikulum sains ISIS menunjukkan karakteristik sebagai
berikut:
- Subordinasi sains di bawah otoritas teologis: Pengetahuan ilmiah hanya diterima jika sejalan dengan interpretasi teologis tertentu. Teori evolusi, misalnya, ditolak secara sistematis dan digantikan dengan kreasionisme.
- Pengaburan batas antara sains dan dogma: Konsep-konsep kimia dan fisika disajikan dalam kerangka tema religius, sehingga sains kehilangan otonomi epistemiknya.
- Penghilangan berpikir kritis: Kurikulum bersifat dogmatis dan tidak memungkinkan pengembangan kemampuan berpikir kritis, karena tujuan utamanya adalah menghasilkan prajurit muda yang patuh.
- Injeksi nilai-nilai jihad ke dalam materi sains: Bahkan mata pelajaran teknis sekalipun, seperti matematika, sarat dengan representasi semiotik elemen jihad.
Penelitian Arvisais dan Guidère (2022) memperdalam analisis
ini dengan mengkaji kurikulum pemrograman dalam sistem pendidikan ISIS. Temuan
mereka menunjukkan bahwa kurikulum pemrograman ISIS lebih berorientasi pada
injeksi religius dan militer untuk membangun kekhalifahan daripada
mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti computational thinking. Dengan
kata lain, bahkan pendidikan teknologi yang seharusnya netral sekalipun dapat
diradikalisasi untuk tujuan indoktrinasi.
Implikasi bagi Pendidikan Sains
Kasus ISIS memberikan pelajaran penting bahwa kurikulum
saintifik bukanlah entitas yang secara inheren kebal terhadap penyalahgunaan
ideologis. Ketika otoritas pendidikan berada di tangan kelompok yang memiliki
agenda ideologis tertentu, kurikulum sains dapat dengan mudah diubah menjadi
mesin indoktrinasi. Hal ini terjadi karena:
- Sains memiliki otoritas epistemik yang tinggi dalam masyarakat modern, sehingga siapa pun yang mengendalikan pendidikan sains memiliki pengaruh besar terhadap cara pandang generasi muda.
- Kurikulum sains sering dianggap sebagai ranah yang “netral” dan “bebas nilai”, sehingga penyisipan ideologi ke dalamnya sering luput dari perhatian kritis.
- Tidak adanya mekanisme pengawasan internasional yang efektif terhadap kurikulum di wilayah konflik memungkinkan kelompok ekstremis mengembangkan sistem pendidikan alternatif.
Kurikulum sebagai Instrumen Kontra-Radikalisasi
Di sisi lain dari spektrum yang sama, kurikulum juga dapat
difungsikan sebagai alat untuk mencegah dan melawan radikalisasi. Beberapa
penelitian telah menguji berbagai pendekatan kurikuler untuk tujuan ini.
Pendekatan Berbasis Kompetensi Sosial dan Sipil
Sklad dan koleganya (2022) mengevaluasi efektivitas
Universal Curriculum Against Radicalization in Europe (UCARE), sebuah
intervensi kurikuler yang bertujuan mencegah radikalisasi melalui penguatan
kompetensi sosial dan sipil. Penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa
kurikulum berbasis kompetensi sosial dapat mengganggu mekanisme-mekanisme yang
terlibat dalam proses radikalisasi. Temuan ini menunjukkan bahwa pencegahan
radikalisasi tidak harus dilakukan melalui pendekatan keamanan semata, tetapi
juga dapat dilakukan melalui pendidikan yang memberdayakan.
Pendekatan Berbasis Nilai Lokal dan Indigenous
Tanshzil dan koleganya (2026) mengembangkan dan mengevaluasi
intervensi digital storytelling yang berakar pada filosofi Trisilas-Sunda
(Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh) untuk memperkuat resiliensi mahasiswa
terhadap radikalisme. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam
ketahanan mahasiswa terhadap narasi ekstremis, dengan reliabilitas instrumen
mencapai α = 0.939.
Kebaruan dari pendekatan ini terletak pada pengoperasionalan
nilai-nilai filosofis indigenous dalam pedagogi digital kontemporer. Hal ini
menunjukkan bahwa strategi kontra-radikalisasi tidak harus mengimpor model dari
Barat, tetapi dapat dikembangkan dari kearifan lokal yang relevan dengan
konteks budaya setempat.
Pendekatan Kurikulum Integratif di Perguruan Tinggi
Suhendi dan rekannya (2020) meneliti pencegahan radikalisme
melalui kurikulum integratif di pendidikan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa implementasi kurikulum integratif merupakan salah satu cara yang layak
bagi institusi pendidikan tinggi untuk berpartisipasi dalam pencegahan
radikalisme. Pendekatan ini menekankan integrasi berbagai disiplin ilmu dan
nilai-nilai moderasi dalam proses pembelajaran.
Pendekatan Sinergi Tiga Pilar
Werdiningsih dan koleganya (2024) mengusulkan model
pendidikan anti-radikalisme yang mensinergikan tiga pilar sekaligus: kurikulum
yang tersinergi, keterlibatan sosial, dan strategi pembelajaran adaptif. Model
ini menekankan bahwa pendidikan anti-radikalisme tidak dapat hanya mengandalkan
kurikulum semata, tetapi memerlukan keterlibatan aktif peserta didik dalam
masyarakat serta strategi pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan dan
konteks mereka.
Kurikulum Sains Radikal untuk Emansipasi dan Keadilan Sosial
Pedagogi Kritis ala Freire dalam Pendidikan Sains
Berbeda dengan radikalisasi kurikulum oleh kelompok
ekstremis, terdapat tradisi pemikiran yang secara sadar mengadopsi pendekatan
“radikal” untuk tujuan emansipasi. Tradisi ini terutama terinspirasi oleh
pemikiran Paulo Freire, pendidik asal Brasil yang dikenal dengan pedagogi
kritisnya.
Santos (2009) menjadi salah satu pionir dalam menerapkan
perspektif Freirean ke dalam pendidikan sains. Dalam artikelnya yang menjadi
klasik di bidang ini, Santos berargumen bahwa literasi saintifik perlu dipahami
sebagai proyek emansipatoris, bukan sekadar kompetensi teknis. Perspektif
Freirean dalam literasi saintifik menawarkan pandangan radikal yang berkomitmen
pada aksi sosiopolitik untuk mengatasi ketidakadilan.
Fernandes dan koleganya (2026) mengembangkan gagasan ini
lebih jauh dengan menjembatani pemikiran Freire dan Bernstein. Mereka
berargumen bahwa dialog antara pendidikan problem-posing Freire dan teori kode
linguistik Bernstein dapat menghasilkan model kurikulum sains kontra-hegemonik
yang mengatasi reproduksi ketidaksetaraan sosial. Pendekatan ini menawarkan
alternatif bagi kurikulum sains yang selama ini cenderung mereproduksi struktur
kekuasaan yang timpang.
Cinta Radikal dan Harapan Kritis
Torres Olave dan koleganya (2023) membawa diskusi ini ke
ranah afektif dengan mengusulkan pedagogi sains yang dibangun di atas “cinta
radikal” (radical love) dan “harapan kritis” (critical hope) sebagai praxis
transformatif. Mereka berargumen bahwa pendidikan sains tidak cukup hanya
mengandalkan rasionalitas teknis, tetapi juga memerlukan dimensi afektif yang
mendorong keterlibatan emosional dan komitmen etis.
Konsep “cinta radikal” dalam konteks ini bukanlah cinta
dalam pengertian romantis, melainkan komitmen mendalam untuk memperjuangkan
keadilan dan martabat manusia melalui pendidikan. Sementara “harapan kritis”
adalah keyakinan bahwa perubahan sosial mungkin terjadi, namun tidak dengan
cara naif—melainkan melalui perjuangan kolektif yang sadar akan tantangan dan
hambatan yang ada.
Kurikulum Integratif untuk Krisis Iklim
Salinas dan koleganya (2023) menghubungkan pedagogi radikal
dengan isu krisis iklim. Mereka mengajukan dialog untuk memahami integrasi
kurikulum sebagai bentuk pedagogi radikal dalam menghadapi krisis iklim,
menjalin pemikiran Freire tentang pedagogi emansipatoris radikal dan bell hooks
tentang transgresi batas dalam pengajaran. Pendekatan ini menekankan bahwa
kurikulum sains harus responsif terhadap tantangan eksistensial yang dihadapi
umat manusia, bukan sekadar mentransmisikan pengetahuan faktual.
Kesadaran Kritis Saintifik
Mirza (2025) mengembangkan kerangka “Kesadaran Kritis
Saintifik” (Scientific Critical Consciousness atau SCC) yang mengkritik
kurikulum sains tradisional karena sarat dengan Eurosentrisme dan mengajarkan
pandangan yang menyesatkan tentang sains. SCC menawarkan alternatif yang
diadaptasi dari pemikiran Freire, Greene, Boler, dan Anyon untuk membantu
peserta didik mengidentifikasi bias ideologis dalam pendidikan sains.
Mirza mengilustrasikan kerangka ini dengan menyajikan
kurikulum “yang diperbarui” untuk fisika tingkat O-level Cambridge Assessment
International Education (CAIE). Meskipun masih dalam tahap pra-pilot informal
di dua sekolah (Pakistan dan New York), SCC menawarkan janji sebagai pendekatan
yang dapat mendekolonisasi pendidikan sains.
Pendidikan Sains untuk Aksi Sosiopolitik
Hodson (1999), meskipun terbit sebelum tahun 2000, tetap
menjadi rujukan klasik yang relevan untuk memahami pendekatan radikal dalam
pendidikan sains. Hodson menggabungkan prinsip-prinsip panduan pendidikan
anti-rasis dengan gagasan Vygotskian tentang pendidikan sebagai enkulturasi
untuk menghasilkan serangkaian proposal bagi bentuk radikal pendidikan sains
multikultural untuk aksi sosiopolitik.
Hodson berargumen bahwa pendidikan sains multikultural perlu
melampaui pluralisme budaya menuju aksi sosiopolitik yang nyata. Ini berarti
peserta didik tidak hanya diajak memahami keragaman budaya dalam sains, tetapi
juga didorong untuk mengambil tindakan nyata dalam mengatasi ketidakadilan yang
terkait dengan sains dan teknologi.
Literasi Saintifik dan Visi Alternatif Kurikulum
Tiga Visi Literasi Saintifik
Perkembangan terkini dalam studi literasi saintifik
menunjukkan adanya pergeseran dari pemahaman yang sempit tentang literasi
saintifik sebagai penguasaan konten menuju pemahaman yang lebih luas dan
kritis. Dalam kajian sistematis tentang Vision III literasi saintifik yang
terbit tahun 2025, para peneliti mengidentifikasi enam penekanan kurikulum
baru: isu sains-teknologi-masyarakat (STS), dimensi etiko-sosio-politik,
agensi, nilai filosofis, perspektif kultural-eksistensial, dan pengetahuan yang
diwujudkan (embodied knowledge).
Vision III pada dasarnya dapat dipahami sebagai sinonim
dengan literasi saintifik berorientasi Bildung kritis-eko-reflektif. Ini
berarti literasi saintifik tidak hanya tentang mengetahui fakta sains atau
memahami metode ilmiah, tetapi juga tentang merenungkan peran sains dalam
masyarakat, dampak etis dari perkembangan saintifik, dan tanggung jawab kita
sebagai warga negara dalam membuat keputusan berbasis sains.
Kritik Transnasional terhadap Kebijakan Kurikulum Sains
Mooney Simmie dan Tolbert (2025) melakukan kritik generatif
transnasional terhadap kebijakan kurikulum sains di Irlandia dan Selandia Baru
dari perspektif feminis dan kritis. Mereka menemukan bahwa reformasi pendidikan
sains di kedua negara masih didominasi oleh tradisi positivisme logis yang
kuat, dengan asumsi-asumsi yang tidak dikaji ulang tentang inklusi dan
keterlibatan sipil.
Kritik ini penting karena menunjukkan bahwa bahkan di
negara-negara demokratis sekalipun, kebijakan kurikulum sains sering kali sarat
dengan asumsi-asumsi yang tidak kritis. Dominasi positivisme logis dalam
kebijakan kurikulum berarti pendidikan sains cenderung direduksi menjadi
pelatihan teknis, mengabaikan dimensi sosial, politis, dan etis yang seharusnya
menjadi bagian integral dari pendidikan sains untuk kewarganegaraan.
Kebijakan Kurikulum dan Keamanan Nasional
Ensemble Psikosekuritas-Kurikulum
Winter dan Mills (2020) mengkaji kebijakan kurikulum
“Nilai-nilai Britania” di sekolah-sekolah Inggris sebagai respons terhadap
ancaman terorisme. Mereka berargumen bahwa kebijakan ini membentuk “ensemble
psikosekuritas-kurikulum” yang merespons ancaman terorisme melalui pendekatan
psikologis dan keamanan, namun sarat dengan nilai nasionalistik dan kolonial.
Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan kebijakan yang dirancang
untuk melawan radikalisasi pun dapat mengandung bias ideologisnya sendiri.
Kebijakan kurikulum yang digerakkan oleh kepentingan keamanan nasional
berpotensi mengorbankan otonomi pedagogis dan keberagaman, serta memperkuat
narasi-narasi yang eksklusif dan asimilasionis.
Deradikalisasi melalui Pendidikan Keagamaan
Nahrowi dan koleganya (2025) mengeksplorasi strategi
deradikalisasi yang berfokus pada koreksi pemahaman keagamaan narapidana
teroris tentang penerapan hukum Islam di Indonesia. Penelitian ini menemukan
tiga elemen inti yang instrumental dalam mengoreksi mispersepsi narapidana
tentang penegakan hukum Islam melalui pendidikan keagamaan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa deradikalisasi dapat
dilakukan melalui pendidikan yang mengoreksi pemahaman teologis yang keliru.
Namun, pendekatan ini juga memiliki tantangan tersendiri karena memerlukan
kepekaan teologis yang tinggi dan berisiko jika tidak dilakukan dengan
hati-hati.
Kurikulum Inklusif Radikal dan Teori Kurikulum
Teori Pendidikan yang Lengkap
De la Herrán Gascón dan RodrÃguez Herrero (2022) mengusulkan
pendekatan kurikulum “radikal dan inklusif”—yang berarti holistik, lebih utuh,
dan tak terbagi (undivided)—untuk menghasilkan perubahan mendasar dalam
kurikulum, pendidikan, dan pedagogi. Mereka berargumen bahwa pendekatan ini
dapat menghasilkan “pendidikan yang lengkap” (complete education) yang
mengatasi fragmentasi pengetahuan dan pengalaman dalam pendidikan modern.
Konsep “radikal” dalam kerangka ini berarti kembali ke akar
(radix dalam bahasa Latin) pendidikan yang sejati, yaitu pengembangan manusia
secara utuh, bukan sekadar transfer pengetahuan atau pelatihan keterampilan.
Pendekatan ini menekankan dialog, hermeneutika, dan dialektika dalam metode
pengajaran.
Skeptisisme Radikal dalam Pendidikan Sains
Artikel dalam Journal of Curriculum Theorizing (2022)
mengusulkan konsep “pasca-kurikulum” (post-curriculum) sebagai tempat
pertanyaan radikal tentang jaminan ilmu kurikulum tradisional. Pendidikan
saintifik baru yang diusulkan menekankan skeptisisme sebagai inti dari usaha
ilmiah, bukan sebagai penolakan terhadap pemikiran dan metode ilmiah, melainkan
sebagai penegasan sentralitas skeptisisme dalam sains itu sendiri.
Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa sains pada dasarnya
adalah aktivitas yang skeptis—selalu mempertanyakan, selalu menguji, selalu
terbuka terhadap revisi. Pendidikan sains yang sehat harus menanamkan
skeptisisme ini, bukan dogmatisme. Namun, skeptisisme radikal tanpa panduan
dapat mengarah pada relativisme epistemik yang berbahaya.
Pendidikan Ekologi Manusia dan Deradikalisasi
Ericson (2026) menghubungkan pendidikan ekologi manusia
dengan pencegahan terorisme. Penelitian ini berargumen bahwa kekerasan
ekstremis tidak hanya berasal dari ideologi tetapi juga dari keluhan pribadi,
sehingga mengajukan pertanyaan apakah pengajaran keterampilan hidup dan sosial
di sekolah dapat membantu mengurangi risiko.
Pendekatan ini menekankan bahwa radikalisasi tidak selalu
merupakan produk dari indoktrinasi ideologis semata, tetapi juga dapat berakar
pada pengalaman pribadi yang penuh dengan keluhan dan keputusasaan. Pendidikan
ekologi manusia—yang mengajarkan keterampilan hidup, keterampilan sosial, dan
pemahaman tentang hubungan manusia dengan lingkungan—dapat menjadi salah satu
cara untuk mengatasi akar-akar radikalisasi ini.
Pendidikan Sains untuk Kewarganegaraan yang Bertanggung
Jawab
Frontiers in Education (2026) meluncurkan topik riset
tentang “Pendidikan Sains untuk Kewarganegaraan yang Bertanggung Jawab” yang
mengeksplorasi bagaimana pendidikan sains dapat berkontribusi pada
kewarganegaraan yang bertanggung jawab, pemikiran kritis, dan keterlibatan
sipil yang informasi dalam masyarakat yang berubah dengan cepat.
Topik riset ini mengumpulkan berbagai pendekatan penelitian
dalam satu wadah, menunjukkan bahwa hubungan antara pendidikan sains dan
kewarganegaraan bertanggung jawab semakin diakui sebagai isu penting dalam
agenda penelitian pendidikan sains global.
Sintesis: Dua Wajah Radikalisasi Kurikulum Saintifik
Berdasarkan analisis atas 20 artikel yang telah dikaji, kita
dapat melihat bahwa “radikalisasi kurikulum saintifik” adalah fenomena yang
memiliki dua wajah yang saling bertolak belakang:
Tabel Perbandingan Dua Wajah Radikalisasi Kurikulum
Saintifik
| Aspek | Radikalisasi sebagai Indoktrinasi | Radikalisasi sebagai Emansipasi |
|---|---|---|
| Aktor | Kelompok ekstremis (ISIS), negara otoriter | Pendidik kritis, akademisi progresif, gerakan sosial |
| Tujuan | Indoktrinasi ideologis, produksi ketaatan buta | Emansipasi, kesadaran kritis, keadilan sosial |
| Mekanisme | Subordinasi sains di bawah otoritas, penghilangan berpikir kritis | Problem-posing, dialog, kesadaran kritis, aksi sosiopolitik |
| Landasan Teoretis | Teologi absolutis, ideologi totaliter | Pedagogi kritis Freire, teori kritis, anti-rasis, feminis |
| Contoh Kasus | Kurikulum sains dan pemrograman ISIS | SCC, Vision III literasi saintifik, pedagogi cinta radikal |
| Konsekuensi | Penghancuran esensi sains, produksi ekstremisme | Pemberdayaan peserta didik, transformasi sosial |
Kedua wajah ini—meskipun secara ideologis
bertentangan—sama-sama menolak netralitas kurikulum saintifik dan sama-sama
memandang pendidikan sains sebagai arena perjuangan kekuasaan. Ironi yang
menarik adalah bahwa kedua pendekatan ini menggunakan istilah yang
sama—“radikal”—untuk merujuk pada proyek yang sangat berbeda.
Gap Penelitian dan Agenda Masa Depan
Berdasarkan kajian atas 20 artikel ini, beberapa celah
penelitian (research gaps) yang signifikan dapat diidentifikasi:
- Dominasi studi teoretis/konseptual: Sebagian besar artikel yang dikaji bersifat teoretis atau konseptual. Sangat sedikit penelitian empiris yang menguji secara sistematis efektivitas kurikulum alternatif dalam mencegah radikalisasi atau mempromosikan emansipasi.
- Kurangnya studi longitudinal: Hampir tidak ada studi yang mengukur dampak jangka panjang kurikulum terhadap radikalisasi atau deradikalisasi. Padahal, dampak kurikulum terhadap pembentukan sikap dan nilai peserta didik memerlukan waktu bertahun-tahun untuk terlihat.
- Minimnya studi komparatif lintas negara: Kecuali studi Mooney Simmie dan Tolbert (2025) yang membandingkan Irlandia dan Selandia Baru, sebagian besar studi terbatas pada satu konteks tertentu tanpa generalisasi yang memadai.
- Kontekstualitas yang berlebihan: Studi tentang ISIS terbatas pada konteks konflik Suriah-Irak, studi tentang Indonesia terbatas pada konteks pendidikan Islam, dan studi tentang Eropa terbatas pada konteks imigrasi dan integrasi. Diperlukan upaya untuk mengidentifikasi pola-pola yang lebih universal.
- Kurangnya integrasi antara dua pendekatan: Sangat sedikit penelitian yang mencoba menjembatani pendekatan kontra-radikalisasi dan pendekatan emansipatoris. Padahal, keduanya mungkin dapat saling memperkaya.
Kesalahan Umum dan Solusi Praktis
Berdasarkan pengalaman para peneliti dan praktisi di bidang
ini, beberapa kesalahan umum dalam memahami dan menerapkan konsep radikalisasi
kurikulum saintifik dapat diidentifikasi:
Kesalahan 1: Menyamakan Semua Bentuk “Radikal”
- Kesalahan: Menganggap semua pendekatan “radikal” dalam kurikulum sebagai sesuatu yang berbahaya atau terlarang.
- Penyebab: Kurangnya pemahaman tentang perbedaan mendasar antara radikalisasi sebagai indoktrinasi dan radikalisasi sebagai emansipasi.
- Solusi: Kembangkan pemahaman yang bernuansa tentang berbagai bentuk “radikal” dalam kurikulum. Bedakan antara radikalisme yang menutup pikiran (closed-minded radicalism) dan radikalisme yang membuka pikiran (open-minded radicalism).
Kesalahan 2: Mengabaikan Dimensi Ideologis Kurikulum
- Kesalahan: Menganggap kurikulum sains sebagai entitas yang netral dan bebas nilai.
- Penyebab: Pandangan naif tentang pendidikan sebagai transfer pengetahuan yang objektif.
- Solusi: Kembangkan kesadaran kritis tentang bagaimana kurikulum selalu mengandung asumsi-asumsi ideologis tertentu. Latih pendidik untuk mengidentifikasi bias-bias tersembunyi dalam kurikulum dan materi ajar.
Kesalahan 3: Pendekatan yang Terlalu Represif dalam
Kontra-Radikalisasi
- Kesalahan: Mengandalkan pendekatan keamanan dan larangan semata dalam mencegah radikalisasi melalui kurikulum.
- Penyebab: Pandangan bahwa radikalisasi hanya masalah keamanan, bukan masalah pendidikan.
- Solusi: Kembangkan pendekatan kurikuler yang memberdayakan daripada sekadar melarang. Fokus pada penguatan kompetensi sosial, civic, dan berpikir kritis daripada sekadar sensor konten.
Kesalahan 4: Mengabaikan Konteks Budaya Lokal
- Kesalahan: Mengimpor model kontra-radikalisasi dari konteks budaya yang berbeda tanpa adaptasi.
- Penyebab: Asumsi bahwa radikalisasi adalah fenomena universal dengan penyebab yang sama di semua tempat.
- Solusi: Kembangkan pendekatan yang berbasis pada kearifan lokal dan nilai-nilai budaya setempat, seperti pendekatan Trisilas-Sunda dalam studi Tanshzil dan koleganya (2026).
Rekomendasi Praktis bagi Berbagai Pemangku Kepentingan
Bagi Pembuat Kebijakan
- Kembangkan kerangka analisis ideologis untuk kurikulum: Setiap kebijakan kurikulum perlu dilengkapi dengan analisis tentang asumsi-asumsi ideologis yang mendasarinya.
- Libatkan beragam perspektif dalam pengembangan kurikulum: Pastikan kurikulum dikembangkan oleh tim yang beragam secara ideologis, kultural, dan disipliner untuk menghindari dominasi satu perspektif tertentu.
- Sediakan mekanisme pengawasan dan evaluasi yang independen: Kurikulum perlu dievaluasi secara berkala oleh pihak yang independen untuk mendeteksi potensi penyimpangan ideologis.
Bagi Pendidik dan Guru
- Kembangkan kesadaran kritis tentang kurikulum: Jangan menerima kurikulum begitu saja. Pertanyakan asumsi-asumsi yang mendasarinya dan identifikasi bias-bias yang mungkin ada.
- Latih peserta didik untuk berpikir kritis: Pendidikan sains yang sehat harus menanamkan skeptisisme dan kemampuan berpikir kritis, bukan dogmatisme.
- Integrasikan isu-isu sosiosaintifik dalam pembelajaran: Libatkan peserta didik dalam diskusi tentang isu-isu sosial yang berkaitan dengan sains, seperti perubahan iklim, keadilan lingkungan, dan etika teknologi.
Bagi Peneliti
- Lakukan lebih banyak penelitian empiris: Kurangnya bukti empiris adalah kelemahan terbesar dalam bidang ini. Diperlukan studi-studi yang menguji secara sistematis efektivitas berbagai pendekatan kurikuler.
- Kembangkan studi longitudinal: Dampak kurikulum terhadap pembentukan sikap dan nilai memerlukan waktu bertahun-tahun. Studi longitudinal sangat diperlukan untuk memahami dampak jangka panjang.
- Lakukan studi komparatif lintas negara: Bandingkan berbagai pendekatan kurikuler di berbagai konteks budaya dan politik untuk mengidentifikasi pola-pola yang lebih universal.
Studi Kasus: Implementasi Pendekatan Kontra-Radikalisasi di Indonesia
Untuk mengilustrasikan penerapan konsep-konsep yang telah
dibahas, mari kita telaah sebuah studi kasus dari Indonesia. Indonesia, sebagai
negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan menghadapi tantangan
radikalisme, telah mengembangkan berbagai pendekatan kurikuler untuk mencegah
radikalisasi.
Kasus: Kurikulum Integratif di Perguruan Tinggi
Penelitian Suhendi dan koleganya (2020) mengkaji
implementasi kurikulum integratif sebagai salah satu cara yang layak bagi
institusi pendidikan tinggi di Indonesia untuk berpartisipasi dalam pencegahan
radikalisme. Pendekatan ini menekankan integrasi nilai-nilai moderasi Islam ke
dalam berbagai mata kuliah, bukan hanya mata kuliah agama.
Langkah-langkah implementasi:
- Identifikasi nilai-nilai moderasi yang relevan dengan konteks lokal, seperti toleransi, penghargaan terhadap keragaman, dan komitmen pada kebangsaan.
- Integrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam silabus berbagai mata kuliah, termasuk mata kuliah sains dan teknologi.
- Latih dosen untuk mengintegrasikan nilai-nilai moderasi dalam pengajaran mereka tanpa mengorbankan substansi keilmuan.
- Evaluasi secara berkala dampak kurikulum integratif terhadap sikap dan perilaku mahasiswa.
Tantangan yang dihadapi:
- Resistensi struktural: Dosen dan administrator mungkin resisten terhadap perubahan kurikulum yang dianggap sebagai beban tambahan.
- Kurangnya pelatihan: Banyak dosen tidak terlatih untuk mengintegrasikan nilai-nilai moderasi ke dalam pengajaran sains.
- Tegangan antara substansi keilmuan dan nilai-nilai: Ada kekhawatiran bahwa integrasi nilai-nilai akan mengorbankan substansi keilmuan.
Pembelajaran dari kasus ini:
- Pendekatan kontra-radikalisasi melalui kurikulum memerlukan komitmen jangka panjang dan dukungan institusional yang kuat.
- Pelatihan pendidik adalah komponen kritis yang sering diabaikan.
- Evaluasi yang sistematis sangat diperlukan untuk mengukur efektivitas dan melakukan perbaikan berkelanjutan.
Ringkasan Poin-Poin Penting
- Radikalisasi kurikulum saintifik adalah fenomena dua wajah: di satu sisi sebagai indoktrinasi ideologis oleh kelompok ekstremis, di sisi lain sebagai emansipasi kritis melalui pedagogi Freirean.
- Kurikulum sains ISIS menunjukkan bagaimana sains dapat disubordinasikan di bawah otoritas teologis, menghilangkan berpikir kritis, dan menjadikan sains sebagai alat indoktrinasi.
- Pendekatan kontra-radikalisasi melalui kurikulum dapat dilakukan melalui berbagai cara: penguatan kompetensi sosial dan sipil, pendekatan berbasis nilai lokal, kurikulum integratif, dan sinergi tiga pilar.
- Pedagogi kritis ala Freire menawarkan visi “radikal” yang emansipatoris untuk pendidikan sains, menekankan kesadaran kritis, aksi sosiopolitik, dan keadilan sosial.
- Literasi saintifik memiliki tiga visi yang saling bersaing: Vision I (konten), Vision II (konteks), dan Vision III (etiko-sosio-politik dan relasional-eksistensial).
- Kebijakan kurikulum untuk keamanan nasional dapat menjadi pedang bermata dua: di satu sisi mencegah radikalisasi, di sisi lain sarat dengan bias nasionalistik dan kolonial.
- Penelitian di bidang ini masih didominasi oleh studi teoretis/konseptual dan kekurangan bukti empiris, studi longitudinal, dan studi komparatif lintas negara.
Checklist Praktis untuk Pendidik dan Peneliti
| No | Pertanyaan Reflektif | Sudah | Belum |
|---|---|---|---|
| 1 | Apakah saya telah mengidentifikasi asumsi-asumsi ideologis dalam kurikulum yang saya ajarkan? | ☐ | ☐ |
| 2 | Apakah saya telah melatih peserta didik untuk berpikir kritis tentang klaim-klaim saintifik? | ☐ | ☐ |
| 3 | Apakah saya telah mengintegrasikan isu-isu sosiosaintifik dalam pembelajaran saya? | ☐ | ☐ |
| 4 | Apakah saya telah mempertimbangkan keragaman perspektif dalam materi ajar saya? | ☐ | ☐ |
| 5 | Apakah saya telah mengevaluasi dampak kurikulum saya terhadap sikap dan nilai peserta didik? | ☐ | ☐ |
| 6 | Apakah saya telah berkolaborasi dengan pendidik dari disiplin lain untuk integrasi kurikulum? | ☐ | ☐ |
| 7 | Apakah saya telah mengembangkan pendekatan yang kontekstual dan berbasis kearifan lokal? | ☐ | ☐ |
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
1. Apakah semua bentuk radikalisasi kurikulum berbahaya?
Tidak. Penting untuk membedakan antara radikalisasi sebagai
indoktrinasi (yang berbahaya) dan radikalisasi sebagai emansipasi (yang dapat
memberdayakan). Radikalisasi sebagai indoktrinasi menutup pikiran dan
menundukkan sains di bawah otoritas ideologis. Radikalisasi sebagai emansipasi
membuka pikiran dan mendorong kesadaran kritis untuk mengatasi ketidakadilan.
2. Bagaimana cara mengidentifikasi kurikulum yang
terradikalisasi?
Beberapa tanda kurikulum yang terradikalisasi antara lain:
(1) penghilangan atau distorsi fakta ilmiah yang bertentangan dengan ideologi
tertentu; (2) penyisipan narasi ideologis ke dalam materi sains secara paksa;
(3) penghilangan kesempatan untuk berpikir kritis dan mempertanyakan; (4)
penggunaan sains semata-mata sebagai alat untuk tujuan di luar esensi keilmuan.
3. Apa perbedaan antara literasi saintifik Vision I, II, dan
III?
Vision I berfokus pada penguasaan konten dan produk sains.
Vision II menekankan pemahaman tentang bagaimana sains bekerja dalam konteks
sosial. Vision III mencakup dimensi etiko-sosio-politik dan
relasional-eksistensial, dengan penekanan pada isu STS, agensi, nilai
filosofis, perspektif kultural-eksistensial, dan pengetahuan yang diwujudkan.
4. Bagaimana pendekatan Freirean dapat diterapkan dalam
pendidikan sains?
Pendekatan Freirean dalam pendidikan sains menekankan: (1)
pendidikan problem-posing daripada pendidikan banking; (2) dialog daripada
monolog; (3) kesadaran kritis tentang peran sains dalam masyarakat; (4) aksi
sosiopolitik untuk mengatasi ketidakadilan yang terkait dengan sains dan
teknologi.
5. Apakah kurikulum sains di Indonesia berisiko
terradikalisasi?
Seperti halnya di negara lain, kurikulum sains di Indonesia
juga memiliki potensi untuk terradikalisasi, baik oleh kelompok ekstremis
maupun oleh kepentingan politik tertentu. Namun, Indonesia juga telah
mengembangkan berbagai pendekatan kurikuler untuk mencegah radikalisasi,
seperti kurikulum integratif dan pendekatan berbasis nilai lokal.
6. Apa yang dapat dilakukan pendidik untuk mencegah
radikalisasi melalui kurikulum?
Pendidik dapat: (1) mengembangkan kesadaran kritis tentang
kurikulum yang mereka ajarkan; (2) melatih peserta didik untuk berpikir kritis;
(3) mengintegrasikan isu-isu sosiosaintifik dalam pembelajaran; (4) menghargai
keragaman perspektif; (5) mengevaluasi dampak kurikulum terhadap sikap dan
nilai peserta didik.
7. Bagaimana hubungan antara radikalisasi kurikulum dan
krisis iklim?
Salinas dan koleganya (2023) menunjukkan bahwa kurikulum
integratif untuk menghadapi krisis iklim dapat menjadi bentuk pedagogi radikal
yang terinspirasi Freire. Krisis iklim memerlukan respons yang radikal dalam
arti transformatif, dan pendidikan sains memiliki peran penting dalam membekali
generasi muda untuk menghadapi tantangan ini.
Kesimpulan dan Arah Pembelajaran Lanjutan
Radikalisasi kurikulum saintifik adalah fenomena kompleks
yang memiliki dua wajah yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, terdapat
ancaman nyata dari radikalisasi kurikulum oleh kelompok ekstremis yang
menjadikan sains sebagai alat indoktrinasi—sebagaimana terdokumentasi secara
jelas dalam kasus ISIS. Di sisi lain, terdapat gerakan pedagogi kritis yang
secara sadar mengadopsi pendekatan “radikal” untuk membebaskan pendidikan sains
dari hegemoni kapitalisme neoliberal, rasisme, dan ketidakadilan struktural.
Ironisnya, kedua gerakan ini—meskipun secara ideologis
bertentangan—sama-sama menolak netralitas kurikulum saintifik dan sama-sama
memandang pendidikan sains sebagai arena perjuangan kekuasaan. Tantangan bagi
para pendidik dan pembuat kebijakan adalah bagaimana mempertahankan integritas
epistemik sains—dengan penalaran kritis, keterbukaan terhadap bukti, dan
penghormatan terhadap metode ilmiah—sambil tetap responsif terhadap tuntutan
keadilan sosial dan keragaman perspektif.
Penelitian di bidang ini masih menyisakan banyak celah yang
perlu diisi: dominasi studi teoretis, kurangnya bukti empiris, minimnya studi
longitudinal, dan terbatasnya studi komparatif lintas negara. Diperlukan upaya
kolaboratif dari para peneliti di berbagai negara untuk mengisi celah-celah ini
dan mengembangkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena
radikalisasi kurikulum saintifik.
Bagi pembaca yang ingin memperdalam pemahaman tentang topik ini, disarankan untuk mempelajari konsep-konsep terkait seperti pedagogi kritis Paulo Freire, teori kode linguistik Basil Bernstein, tiga visi literasi saintifik, dan pendekatan kontra-radikalisasi berbasis kurikulum. Artikel-artikel jurnal yang telah dikaji dalam tulisan ini dapat menjadi titik awal yang baik untuk eksplorasi lebih lanjut.
Referensi
- Deslandes-Martineau, M., Charland, P., Lapierre, H. G., Arvisais, O., Chamsine, C., Venkatesh, V., & Guidère, M. (2022). The programming curriculum within ISIS. PLoS ONE, *17*(4), e0265721. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0265721
- De la Herrán Gascón, A., & RodrÃguez Herrero, P. (2022). The radical inclusive curriculum: Contributions toward a theory of complete education. Asia Pacific Education Review, *25*(4), 777–790. https://doi.org/10.1007/s12564-022-09810-4
- Dos Santos, W. L. P. (2009). Scientific literacy: A Freirean perspective as a radical view of humanistic science education. Science Education, *93*(2), 361–382. https://doi.org/10.1002/sce.20301
- Ericson, S. (2026). How human ecology education defuses the roots of terrorism. CounterPunch.
- Fernandes, G. W. R., Rodrigues, A. M., & Gomes, J. A. T. (2026). From reproduction to emancipation: Freire and Bernstein in dialogue for a counter-hegemonic science curriculum. Cultural Studies of Science Education, *21*(2), 403. https://doi.org/10.1007/s11422-026-10285-7
- Hodson, D. (1999). Going beyond cultural pluralism: Science education for sociopolitical action. Science Education, *83*(6), 775–796. https://doi.org/10.1002/(SICI)1098-237X(199911)83:6<775::AID-SCE8>3.0.CO;2-0
- Mirza, U. J. (2025). Regime change: The need for scientific critical consciousness. International Journal of Critical Diversity Studies, *7*(1), 86–110. https://doi.org/10.13169/intecritdivestud.7.1.0086
- Mooney Simmie, G., & Tolbert, S. (2025). Science education for democracy and sustainability: A transnational critique of policy texts in a fast-globalizing reform ensemble. Democracy & Education, *33*(2), Article 4.
- Nahrowi, Masyrofah, Irfan, M. N., & Prawiro, A. (2025). Deradicalization strategy: Correcting terrorist inmates' understanding of the implementation of Islamic law in Indonesia. Hikmatuna: Journal for Integrative Islamic Studies, *11*(1). https://doi.org/10.28918/hikmatuna.v11i1.10841
- Potvin, P., Bissonnette, M., Chamsine, C., Bruyère, M.-H., Mahhou, M. A., Arvisais, O., Charland, P., Cyr, S., & Venkatesh, V. (2019). Science education under a totalitarian theocracy: Analyzing the ISIS primary curriculum. Journal of Research in Science, Mathematics and Technology Education, *2*(3). https://doi.org/10.31756/jrsmte.233
- Salinas, I., Fernández, M. B., Johnson, D., & BastÃas, N. (2023). Freire's hope in radically changing times: A dialogue for curriculum integration from science education to face the climate crisis. Cultural Studies of Science Education.
- She blinded me with science: Post-curriculum and the new scientific education. (2022). Journal of Curriculum Theorizing.
- Sklad, M., Park, E., van Venrooij, I., Pickard, A., & Jantine, W. (2022). Radicalization prevention by means of strengthening social and civic competences. Contemporary School Psychology, *26*, 248–262. https://doi.org/10.1007/s40688-020-00330-9
- Suhendi, S., Sawahel, W. A.-F., & Abdillah, K. Y. (2020). Preventing radicalism through integrative curriculum at higher education. Jurnal Pendidikan Islam, *6*(1), 79–94. https://doi.org/10.15575/jpi.v6i1.8498
- Tanshzil, S. W., Syaifullah, Hadian, V. A., Danial, E., Aulia, S. R., Kurniawaty, I., Ramdani, A. H., & Aliantika, N. N. (2026). Enhancing university students' resilience to radicalism through culturally responsive digital storytelling: A quasi-experimental study. Frontiers in Education, *11*, 1773376. https://doi.org/10.3389/feduc.2026.1773376
- Torres Olave, B., Tolbert, S., & Frausto Aceves, A. (2023). Reflecting on Freire: A praxis of radical love and critical hope for science education. Cultural Studies of Science Education, *18*, 1–20. https://doi.org/10.1007/s11422-023-10168-1
- Vision III of scientific literacy and science education: An alternative vision for science education emphasising the ethico-socio-political and relational-existential. (2025). Studies in Science Education, *61*(2), 239–274.
- Werdiningsih, R., Hadiati, T. L., Wirasati, W., Maristy, A. N., & Nisa, S. (2024). Transforming anti-radicalism education through synergized curriculum, social engagement, and adaptive learning strategies. International Journal of Educational Research, *1*(4), 113–129. https://doi.org/10.62951/ijer.v1i4.427
- Winter, C., & Mills, C. (2020). The Psy-Security-Curriculum ensemble: British Values curriculum policy in English schools. Journal of Education Policy, *35*(1), 46–67. https://doi.org/10.1080/02680939.2018.1493621
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan analisis atas 20 artikel jurnal ilmiah internasional terindeks Q1-Q4 yang terbit antara tahun 2000 hingga 2026. Meskipun telah diupayakan akurasi dan kelengkapan informasi, pembaca disarankan untuk merujuk langsung ke sumber-sumber primer untuk keperluan akademik yang memerlukan verifikasi detail. Pandangan dan interpretasi yang disajikan dalam artikel ini adalah tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan institusi manapun. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dimaksudkan sebagai panduan kebijakan tanpa konsultasi dengan para ahli di bidangnya.

Gabung dalam percakapan